Semarang – Pencarian Syafiq Ridhan Ali Razan (18), pendaki asal Magelang yang hilang di Gunung Slamet, telah dihentikan setelah sembilan hari. Tim SAR tidak menemukan Syafiq akibat terkendala cuaca buruk, vegetasi lebat, dan luasnya area pencarian.
Syafiq dilaporkan hilang sejak Sabtu (27/12/2025) malam, setelah mendaki bersama temannya, Himawan Haidar Bahran. Himawan ditemukan selamat.
Staf Operasi Kantor SAR Semarang, Handika Hengki, menyatakan operasi pencarian dihentikan pada Rabu (7/1), namun pemantauan tetap dilakukan. “Pencarian Syafiq Ali sudah ditutup. Sekarang dialihkan ke pemantauan,” jelas Handika, Jumat (9/1).
Syafiq dan Haidar memulai pendakian melalui Pos Dipajaya, Desa Clekatakan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang. Mereka berencana melakukan pendakian tektok (pulang-pergi satu hari) dan kembali ke Pos Dipajaya pada Minggu (28/12) sore.
Namun, mereka baru mencapai puncak Gunung Slamet (3.432 mdpl) pada Minggu sore, sehingga terpaksa bermalam. Saat turun pada Senin (29/12/2025), Himawan mengalami cedera kaki. Syafiq kemudian berinisiatif mencari bantuan untuk mengevakuasi Himawan, namun tidak kembali.
Himawan akhirnya kembali naik ke Pos 9 (3.183 mdpl) dan bertahan hingga Selasa (30/12) pagi, sebelum ditemukan relawan dari basecamp Dipajaya. Handika menjelaskan bahwa mereka tidak membawa perlengkapan memadai karena berencana melakukan pendakian tektok. “Jadi tidak membawa logistik seperti pendakian pada umumnya,” terangnya.
Masa operasi pencarian sempat diperpanjang dua hari dari rencana awal tujuh hari. Operasi melibatkan 120 personel tim SAR gabungan, termasuk TNI-Polri, yang dibagi menjadi lima tim dan disebar ke berbagai titik potensial.
Menurut Handika, tim telah menyisir hampir setengah lingkar Gunung Slamet. “Kami menyapu area hampir setengah lingkar Gunung Slamet baik dari titik Pos 5 ke atas, Pos 5 sampai Pos 4, Pos 4 sampai Pos 2, dan Pos 2 ke Pos 1,” terangnya.
Tim pencarian tidak menemukan jejak Syafiq, bahkan tanda-tanda barang miliknya pun tidak ada. “Sama sekali tidak ditemukan jejak kaki maupun barang milik korban atau survivor ini,” bebernya.
Cuaca ekstrem, termasuk hujan badai di puncak, menjadi tantangan utama dalam pencarian. Handika menambahkan bahwa relawan yang ingin membantu pencarian tetap dipersilakan. “Ketika ada temuan dan butuh tim evakuasi yang sifatnya penanganan khusus, Basarnas juga bisa diberangkatkan,” paparnya.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Jawa Tengah, Muhammad Chomsul, menyatakan operasi pencarian dapat dibuka kembali jika ada informasi baru yang valid. “Operasi dapat dibuka kembali apabila terdapat informasi baru yang dapat dipertanggungjawabkan,” ucapnya.











