Padang – Hujan deras yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat dalam beberapa hari terakhir menyebabkan puluhan orang meninggal dunia dan puluhan lainnya dilaporkan hilang. Bencana banjir dan tanah longsor ini juga merusak ribuan rumah dan memaksa ribuan warga mengungsi.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan, hujan deras yang menyebabkan banjir besar dan longsor disebabkan oleh Siklon Senyar.
Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, telah menetapkan status tanggap darurat di wilayahnya sejak Kamis (27/11) setelah sejumlah kabupaten dan kota terendam banjir dan longsor. Status ini berlaku selama 14 hari, mulai 28 November hingga 11 Desember 2025.
“Hari ini saya Gubernur Aceh menetapkan status keadaan tanggap darurat bencana hidrometeorologi di Aceh,” kata Muzakir dalam keterangan pers.
Akses transportasi dari Banda Aceh menuju Medan lumpuh setelah jembatan ambruk akibat banjir. Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) melaporkan, banjir dan tanah longsor telah menelan setidaknya 13 korban jiwa serta merendam 20 dari 23 kabupaten/kota di Aceh.
Kepolisian Daerah Sumatra Utara menyatakan setidaknya 43 orang meninggal dunia dan sekitar 88 lainnya masih dalam pencarian hingga Kamis (27/11) sore.
“Jumlah korban meninggal dunia 43 orang dan korban hilang 88 orang. Sementara itu, jumlah warga yang mengungsi mencapai 1.168 orang,” kata Juru Bicara Polda Sumatra Utara, Komisaris Besar Ferry Walintukan.
Gelombang bencana terjadi di 12 kabupaten dan kota di Sumatra Utara, meliputi banjir, tanah longsor, dan puting beliung. Dampak terparah terjadi di Tapanuli Utara dengan 40 titik longsor dan 12 wilayah terendam banjir.
Wakil Gubernur Sumatra Barat Vasko Ruseimy menyebutkan 12 orang meninggal dunia akibat banjir dan tanah longsor di provinsinya. Sebanyak 12.000 jiwa dilaporkan terdampak bencana tersebut.
Banjir dan tanah longsor terjadi di 13 kabupaten dan kota di Sumatra Barat, termasuk Padang, Pariaman, Pasaman Barat, dan Bukittinggi. Pemda Sumbar telah menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari, hingga 8 Desember.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengatakan bahwa salah satu daerah terdampak parah adalah bantaran Sungai Minturun di Kota Padang, dengan empat orang meninggal dunia.
Seorang warga Lubuk Minturun, Meri Osman, menuturkan bahwa banjir datang sekitar pukul 04.00 WIB. Ia terbangun setelah mendengar dentuman dan melihat air mengalir kencang.











