Padang – Mantan pebalap MotoGP, Jorge Lorenzo, mengungkapkan momen yang membuatnya sadar bahwa Marc Marquez bukanlah pebalap biasa. Lorenzo mengakui kehebatan Marquez sejak debutnya di kelas tertinggi.
Kesuksesan Marquez bersama tim pabrikan Ducati pada MotoGP 2025 memang tak terbantahkan, meskipun sempat meraih hasil kurang memuaskan di GP Indonesia. Ia telah mengunci gelar juara dunia musim ini sebelum mengalami cedera di Sirkuit Mandalika.
Lorenzo, yang pernah menjadi rekan setim Marquez di Honda, tak menyesali perjalanan kariernya saat melawan pebalap-pebalap hebat seperti Marquez. Menurutnya, ia sebenarnya bisa meraih satu gelar juara dunia lagi jika diberi kesempatan satu musim lagi bersama Ducati. “Saya tidak menyesali apa pun tentang karier olahraga saya karena kita tidak bisa mengubah masa lalu,” kata Lorenzo, dilansir dari Motosan.
Lebih lanjut, juara dunia tiga kali MotoGP bersama Yamaha itu sudah merasakan bakat hebat yang dimiliki Marquez sejak naik ke kelas tertinggi pada 2013. Di musim debutnya, Marquez langsung menjadi juara dunia. “Saya berjuang sebagai rival dan langsung menyadari bahwa saya menghadapi sebuah fenomena,” ucap Lorenzo. “Ketika seorang pebalap menjadi juara pada debutnya di MotoGP, itu berarti ia memiliki bakat istimewa.”
Lorenzo juga menyoroti performa Marquez yang naik turun, terutama sejak mengalami kecelakaan fatal pada musim 2020. Menurutnya, efek cedera pada musim tersebut belum sepenuhnya hilang dari tubuh Marquez bahkan hingga musim ini. “Saya rasa setelah kecelakaan lengannya di tahun 2020, ia belum pulih sepenuhnya, saya yakin kondisi fisiknya belum 100 persen,” ucap Lorenzo.
Namun, kehebatan Marquez dari segi bakat yang dikombinasikan dengan motor tangguh Ducati mampu menutupi kekurangan tersebut sehingga menciptakan sebuah dominasi yang kuat. Lorenzo pun teringat dengan legenda MotoGP Mick Doohan di Honda dan Michael Schumacher di Ferrari.
“Meskipun begitu, Marquez tetap yang terbaik, dia tampaknya jauh tertinggal dari pembalap lain,” ucap Lorenzo. “Sebagian karena Ducati dan sebagian lagi karena kemampuannya sendiri. Ketika pembalap terbaik mengendarai motor terbaik, hal itu terjadi, hal itu terjadi dengan Doohan di Honda dan dengan Schumacher di Ferrari,” imbuhnya.











