Kuala Lumpur – Asosiasi Sepak Bola Malaysia (FAM) terancam sanksi berat dari FIFA setelah terbukti melakukan pemalsuan dokumen naturalisasi tujuh pemain. Jurnalis asal Malaysia, Avineshwaran Taharumalengam, dalam laporannya di The Star, menyebut kasus ini sebagai skandal memalukan dan krisis kredibilitas bagi sepak bola Malaysia.

FAM diduga memalsukan dokumen agar Gabriel Felipe Arrocha, Facundo Tomas Garces, Rodrigo Julian Holgado, Imanol Javier Machuca, Joao Vitor Brandao Figueiredo, Jon Irazabal Iraurgui, dan Hector Alejandro Hevel Serrano bisa dinaturalisasi dan bermain untuk timnas Malaysia. FIFA menyatakan FAM menggunakan dokumen palsu untuk memuluskan proses naturalisasi.

Avineshwaran curiga sejak awal proyek naturalisasi ini bergulir. Kecurigaan itu menguat setelah pemilik Johor Darul Ta’zim (JDT), Tunku Ismail Sultan Ibrahim, mengumumkan kehadiran para pemain naturalisasi tersebut melalui akun X resminya pada 11 Januari 2025. Pengumuman itu dinilai mengabaikan uji kelayakan sebagai warga negara Malaysia.

“Ini bukan tentang hasil yang buruk atau kampanye yang gagal lagi. Ini sesuatu yang jauh lebih serius,” tulis Avineshwaran di The Star.

Kasus ini menuai kekecewaan publik Malaysia. Avineshwaran menyoroti kontras antara proses naturalisasi di Malaysia dengan di Indonesia, di mana PSSI membuka dokumen naturalisasi ke publik. Transparansi ini dinilai menjadi kunci keberhasilan program naturalisasi di Indonesia.

“Tentu saja, pemain naturalisasi dan warisan merupakan bagian dari sepak bola modern. Jika dilakukan secara transparan dan sah, seperti di negara lain seperti Indonesia – di mana garis keturunan terdokumentasi dengan jelas – upaya semacam itu membuahkan hasil,” lanjutnya.

Lebih lanjut, Tunku Ismail Sultan Ibrahim membocorkan bahwa proses naturalisasi ini tidak menggunakan akta kelahiran asli. Hal ini berpotensi memperberat sanksi dari FIFA.

Sanksi FIFA tidak hanya berdampak pada FAM dan timnas Malaysia, tetapi juga klub JDT. Klub berjuluk Harimau Selatan itu terancam sanksi di berbagai kompetisi.

“Konsekuensinya serius. JDT, yang telah lama dianggap sebagai klub model Malaysia, kini menghadapi risiko kisah sukses mereka akan tercoreng,” tulis Avineshwaran.

Avineshwaran menyebut skandal ini bisa menjadi momen tergelap dalam sejarah sepak bola Malaysia, bahkan melampaui skandal pengaturan pertandingan tahun 1990-an.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *