Medan – Bencana banjir, banjir bandang, dan tanah longsor yang melanda Sumatra bagian utara dalam sepekan terakhir telah mengakibatkan setidaknya 34 orang meninggal dunia, 52 hilang, dan ribuan penduduk mengungsi.

Menurut pakar dari Institut Teknologi Bandung (ITB), hebatnya bencana kali ini dipicu oleh tiga faktor utama: kondisi atmosfer, kondisi geospasial, dan kapasitas tampung wilayah yang terbatas.

Ketua Program Studi Meteorologi ITB, Muhammad Rais Abdillah, menjelaskan bahwa wilayah utara Sumatra memiliki karakteristik curah hujan yang berbeda dengan daerah lain di Indonesia, yaitu pola hujan sepanjang tahun atau dua puncak hujan dalam setahun. “Dan saat ini berada pada puncaknya,” ujarnya, seperti dikutip dari laman ITB, Jumat (28/11/2025).

Rais menambahkan, Sumatra Utara termasuk dalam Region B dengan ciri pola hujan ekuatorial yang memiliki dua puncak musim hujan pada periode ekuinoks sekitar Maret dan Oktober. “Karakteristik ini menunjukkan bahwa wilayah tersebut mengalami musim hujan hampir sepanjang tahun dengan variabilitas hujan yang tinggi,” katanya.

Data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan intensitas hujan ekstrem, yaitu lebih dari 150 milimeter per hari. Rais membandingkan dengan curah hujan 370 mm saat banjir besar melanda Jabodetabek pada awal Januari 2020. “Kondisi di Sumatera Utara pada akhir November 2025 ini memiliki karakteristik curah hujan yang mendekati peristiwa Jakarta 2020 tersebut,” ungkapnya.

Visualisasi pola angin pada 24 November 2025 menunjukkan adanya pusaran angin (vortex) di sekitar wilayah barat Sumatra Utara, mengindikasikan sistem tekanan rendah dan awal perkembangan Siklon Tropis Senyar. Kondisi ini memperkuat suplai uap air dan pembentukan awan hujan, sehingga meningkatkan potensi hujan ekstrem.

Meskipun tidak terlalu kuat seperti siklon di Samudra Hindia atau Pasifik, Siklon Tropis Senyar cukup untuk meningkatkan suplai uap air, memperkuat pembentukan awan hujan, dan memperluas cakupan hujan di Sumatra bagian utara.

Selain itu, terdapat pengaruh fenomena atmosfer skala meso dan sinoptik, seperti vortex siklonik dan indikasi cold surge vortex, yaitu embusan angin kuat dari utara yang membawa massa udara lembap serta memperkuat pembentukan awan hujan. “Kondisi ini semua memicu meningkatnya intensitas hujan dan memperbesar risiko banjir di wilayah Sumatra Utara,” jelas Rais.

Sementara itu, dosen Program Studi Teknik Geodesi dan Geomatika ITB, Heri Andreas, menyoroti pentingnya pengelolaan air oleh permukaan bumi. Sebagian air hujan meresap ke dalam tanah, sementara sebagian lainnya mengalir di permukaan. “Proporsi antara keduanya sangat bergantung pada tutupan lahan dan karakteristik tanah,” katanya.

Kawasan dengan tutupan vegetasi alami seperti hutan dan rawa memiliki kemampuan serapan air yang jauh lebih tinggi dibandingkan wilayah yang telah berubah fungsi menjadi permukiman, perkebunan, atau area terbuka tanpa vegetasi. Degradasi kawasan tersebut menyebabkan penurunan kemampuan infiltrasi dan peningkatan runoff yang signifikan.

“Ketika kawasan penahan air alami hilang, wilayah tersebut kehilangan kemampuan menahan limpasan. Akibatnya, hujan yang turun langsung mengalir cepat ke sungai dan memicu banjir,” ujar Heri.

Heri menekankan pentingnya penataan ruang berbasis risiko, konservasi kawasan penahan air, dan pemodelan geospasial untuk mitigasi jangka panjang. Perlindungan kawasan resapan air alami seperti hutan, rawa, dan sempadan sungai dinilai krusial untuk menjaga kapasitas wilayah dalam menyerap air dan mengurangi limpasan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *