Johor Bahru – Klub raksasa Liga Malaysia, Johor Darul Ta’zim (JDT), melayangkan protes keras atas kesalahan teknis yang dilakukan oleh Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM) hingga menyebabkan tiga pemain mereka diskors FIFA. Sanksi ini merugikan klub dan membuat geram manajemen JDT.
Kekecewaan itu disampaikan langsung oleh Kepala Eksekutif JDT, Luis Garcia, melalui media sosial. Ini merupakan respons pertama klub atas penangguhan yang menimpa pemain mereka, yaitu Joao Figueiredo, Jon Irazabal, dan Hector Hevel.
Garcia menegaskan bahwa situasi ini berdampak signifikan bagi JDT. Ia mendesak FAM untuk segera menyelesaikan masalah ini demi kepentingan semua pihak.
“JDT kecewa karena kesalahan teknis dalam proses penyerahan dokumen oleh FA Malaysia telah menyebabkan skorsing tiga pemain tim nasional Malaysia yang bermain untuk JDT,” ujar Garcia, seperti dikutip dari New Straits Times. “Kami berharap masalah ini dapat diselesaikan sesegera mungkin dan para pemain dapat mewakili JDT pada waktunya,” tambahnya.
Sebelumnya, FAM telah mengeluarkan pernyataan resmi terkait sanksi FIFA atas dugaan pemalsuan dokumen. FAM mengakui adanya kesalahan teknis dalam penyerahan dokumen pemain naturalisasi kepada FIFA.
“FAM sedang menunggu putusan penuh dari Dewan Asosiasi Sepak Bola Internasional (FIFA) sebelum mengajukan banding sesuai dengan proses hukum dan upaya hukum yang berlaku,” tulis pernyataan FAM. “FAM ingin menginformasikan bahwa kami telah mengidentifikasi kesalahan teknis dalam proses pengiriman dokumen yang dilakukan oleh staf administrasi. FAM menanggapi masalah ini dengan serius.”
Kesalahan teknis ini mengakibatkan penangguhan tujuh pemain kunci Timnas Malaysia. Selain tiga pemain JDT, empat pemain naturalisasi lainnya yang terkena sanksi adalah Gabriel Palmero, Facundo Garces, Rodrigo Holgado, dan Imanol Machuca.
FIFA menjatuhkan sanksi tersebut karena para pemain terbukti melanggar Pasal 22 Kode Disiplin FIFA (FDC) terkait pemalsuan dokumen. Komite Disiplin FIFA juga memutuskan FAM harus membayar denda sebesar 350.000 franc Swiss (sekitar Rp7,3 miliar). Sementara itu, tujuh pemain naturalisasi masing-masing didenda 2.000 franc Swiss (Rp41,7 juta) dan dilarang beraktivitas di sepak bola selama 12 bulan.











