Jakarta – Pemusatan latihan nasional (pelatnas) wushu Indonesia terus berjalan tanpa jeda sebagai persiapan menuju Asian Games 2026 di Nagoya, Jepang. Keberlanjutan program ini dinilai krusial untuk menjaga ritme prestasi atlet.
Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Wushu Indonesia (PB WI) Ngatino menjelaskan, pelatnas menjadi wadah pematangan atlet dari berbagai daerah. Mereka berkumpul untuk menyatukan visi dan mengasah bakat dengan intensitas latihan yang lebih tinggi.
“Pelatnas adalah tempat para atlet dari berbagai daerah bertemu dan menyatu dalam satu visi,” ujar Ngatino.
Keberhasilan tim nasional wushu junior Indonesia di Tianjin, China, baru-baru ini menjadi bukti keseriusan pembinaan. Tim tersebut sukses meraih 27 medali, terdiri dari 9 emas, 11 perak, dan 7 perunggu, menempatkan Indonesia di peringkat ketiga dunia.
Prestasi ini mengindikasikan regenerasi atlet wushu Indonesia berjalan baik. Ketua Umum PB WI Airlangga Hartarto melihat para atlet muda sebagai bintang masa depan yang akan menggantikan generasi senior di kancah internasional.
“Para atlet muda ini adalah bintang masa depan yang kelak akan menggantikan generasi senior di panggung internasional,” kata Airlangga.
Contoh nyata regenerasi terlihat pada Noach Daiki Santoso, pelajar SMA asal Semarang, yang meraih medali emas di ajang junior. Pengalaman ini menjadi bekal berharga baginya. Hal serupa diungkapkan Clara Abigail, pelajar SMP dari Surabaya, yang memaknai medali sebagai bagian dari perjalanan panjang pengorbanan dan latihan.
Pembinaan wushu tidak hanya terpusat, tetapi juga merambah ke daerah. Di Kabupaten Bangka Barat, wushu diperkenalkan langsung ke sekolah-sekolah melalui sosialisasi dan pertunjukan. Upaya ini bertujuan menanamkan nilai-nilai disiplin, sportivitas, dan keberanian sejak usia dini.











