Jakarta – Istilah mata keranjang yang kini akrab di telinga masyarakat Indonesia ternyata memiliki akar sejarah yang unik dari masa Hindia Belanda. Ungkapan tersebut lahir dari kebiasaan kaum pria pada masa itu yang kerap memadati lapangan saat kaum wanita bermain bola keranjang, olahraga yang menjadi cikal bakal permainan bola basket saat ini.

Pada era tersebut, pertandingan maupun sesi latihan bola keranjang sering digelar di Lapangan Singa—yang kini dikenal sebagai Lapangan Banteng—serta Lapangan Ikada yang sekarang menjadi kawasan Monas. Kehadiran para pria di pinggir lapangan bukan sekadar untuk menikmati jalannya pertandingan, melainkan untuk memperhatikan para pemain wanita. Para pria tersebut tertarik melihat para wanita yang mengenakan celana pendek saat berolahraga, yang kala itu memperlihatkan bagian paha. Dari perilaku yang lebih fokus mengamati pemain daripada olahraga itu sendiri, muncul sebutan mata keranjang.

Selain istilah tersebut, terdapat pula ungkapan cuci mata yang juga populer di era yang sama. Istilah ini muncul seiring dengan banyaknya pembangunan kolam renang atau swembad di Batavia, seperti di kawasan Cikini, Manggarai, dan Princen Park. Meskipun masyarakat Betawi pada umumnya terbiasa berenang di Sungai Ciliwung, keberadaan kolam renang umum menjadi daya tarik tersendiri. Karena saat itu masih dianggap tabu bagi gadis lokal untuk mengenakan pakaian renang seperti wanita Belanda, kehadiran para pria di kolam renang sering kali hanya bertujuan untuk melihat-lihat, sehingga aktivitas tersebut disebut sebagai cuci mata.

Pengaruh budaya Belanda di Batavia saat itu sangat kuat, tercermin dari keberadaan media massa berbahasa Belanda seperti Java Bode dan Nieuwsgeer yang bertahan hingga 1958. Gaya hidup, cara berpakaian, hingga model rambut masyarakat lokal pun banyak yang mengadopsi tren dari warga Indo-Belanda yang bermukim di berbagai kampung.

Namun, dinamika politik pada awal 1960-an membawa perubahan drastis. Akibat memanasnya hubungan RI-Belanda terkait persoalan Irian Barat, Presiden Soekarno menggencarkan gerakan nasionalisme yang menyasar berbagai aspek kehidupan. Kebijakan ini mencakup perubahan nama-nama tempat hiburan, tokoh publik, hingga selebritas. Sebagai contoh, Princen Park diubah menjadi Lokasari, Bioskop Metropole menjadi Megaria, dan Astoria menjadi Satria. Bahkan, sejumlah artis ternama turut mengganti nama mereka, seperti Lience Tambayong yang diubah menjadi Rima Melati oleh Bung Karno.

Sentimen nasionalisme ini juga merambah ke gaya hidup dan seni. Pemerintah melarang pengaruh musik Barat seperti The Beatles dan aliran rock n’ roll. Selain itu, gaya rambut sasak yang sempat populer di kalangan wanita Indo juga dilarang. Kelompok pemuda pada masa itu bahkan kerap melakukan aksi protes dengan slogan Ganyang sasak apabila menemui wanita yang tetap mempertahankan model rambut tersebut di ruang publik. Gerakan ini menjadi simbol perlawanan terhadap budaya asing yang dianggap tidak sesuai dengan semangat nasionalisme Indonesia kala itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *