Meksiko – Tim nasional sepak bola Korea Selatan memulai kiprah mereka di Grup A Piala Dunia 2026 dengan hasil positif setelah menundukkan Republik Ceko dengan skor 2-1 di Estadio Akron, Meksiko, pada Jumat (12/6/2026). Kemenangan ini menempatkan skuad asuhan Hong Myung-bo dalam posisi strategis untuk melaju ke babak berikutnya, sekaligus mempertegas status mereka sebagai salah satu kekuatan sepak bola Asia yang diperhitungkan di kancah internasional.
Namun, keberhasilan di atas lapangan hijau justru berbanding terbalik dengan situasi di luar lapangan. Tim berjuluk Taegeuk Warriors tersebut kini tengah dirundung kontroversi besar setelah memutuskan untuk memboikot jurnalis asal negara mereka sendiri yang meliput perhelatan Piala Dunia 2026. Langkah tegas ini diambil sebagai respons atas beredarnya rekaman percakapan yang berisi ejekan terhadap kapten tim, Son Heung-min.
Polemik bermula ketika sebuah rekaman percakapan antarjurnalis dari media Korea Selatan tersebar ke publik. Dalam rekaman tersebut, terdapat komentar yang menyinggung status militer Son Heung-min. Penyerang tersebut diketahui hanya menjalani pelatihan militer dasar selama tiga minggu, bukan kewajiban penuh selama 21 bulan, setelah mendapatkan keringanan berkat keberhasilannya meraih medali emas pada Asian Games 2018. Kebijakan pemberian keringanan tersebut merupakan regulasi resmi pemerintah Korea Selatan bagi atlet berprestasi di ajang internasional bergengsi.
Tidak hanya menyinggung masalah kewarganegaraan, rekaman tersebut juga memuat kritik bernada merendahkan terhadap performa fisik Son di lapangan. Salah satu jurnalis dilaporkan mengomentari gaya berlari sang kapten saat melawan Republik Ceko dengan nada ejekan yang tidak pantas, yang kemudian memicu kemarahan publik serta internal tim nasional. Komentar tersebut dianggap telah melampaui batas etika jurnalistik dan menghina martabat pemain.
Menanggapi insiden tersebut, pihak timnas Korea Selatan mengambil sikap tegas dengan menutup akses bagi media lokal. Mereka menolak memberikan wawancara di area mixed zone, baik setelah pertandingan maupun sesi latihan. Selain itu, sejumlah agenda resmi seperti konferensi pers pemain dikurangi, sementara pengamanan di lokasi latihan diperketat secara signifikan.
Asosiasi Sepak Bola Korea (KFA) dalam pernyataan resminya menekankan pentingnya sikap saling menghormati dalam proses peliputan media. KFA menegaskan bahwa tim sedang fokus mempersiapkan diri dengan rasa tanggung jawab besar untuk mewakili bangsa. Menurut asosiasi, liputan media harus dijalankan berlandaskan rasa saling percaya, dengan menitikberatkan pada perlindungan serta penghormatan terhadap para pemain.
Hingga saat ini, pihak timnas dan media lokal masih terus melakukan dialog untuk meredakan ketegangan. Situasi ini menjadi tantangan tersendiri bagi Son Heung-min dan rekan-rekannya yang harus tetap menjaga fokus sebelum menghadapi laga kedua Grup A melawan Meksiko pada Jumat (19/6/2026). Potensi Korea Selatan untuk melangkah jauh di turnamen ini tetap tinggi, namun stabilitas internal tim akan sangat bergantung pada bagaimana konflik dengan media ini diselesaikan. Analis sepak bola, termasuk Presiden Pena Real Madrid de Indonesia (PRMI), Syahrul Fauzi, sebelumnya telah memprediksi bahwa Korea Selatan bersama Jepang memiliki peluang besar untuk mendominasi fase grup Piala Dunia kali ini.










