London – Gabriel Han Willhoft King, mantan pemain potensial berdarah Inggris-Indonesia yang sempat diincar untuk memperkuat Timnas Indonesia U-17, secara mengejutkan memutuskan pensiun dari sepak bola profesional di usia 19 tahun. Keputusan ini diambil setelah serangkaian cedera dan dorongan untuk mengejar ambisi intelektual di luar lapangan hijau.
Wilhoft-King, yang lahir di London pada 24 Januari 2006, memiliki latar belakang keluarga akademisi dengan ayah yang besar di Jakarta dan ibu berdarah Tionghoa-Amerika Serikat seorang arsitek.
Pemain ini pernah menjadi sorotan publik sepak bola nasional berkat awal kariernya yang cemerlang. Ia merupakan jebolan akademi Tottenham Hotspur sebelum kemudian bergabung dengan Manchester City pada 2024.
Ia juga seangkatan dengan bintang Arsenal, Ethan Nwaneri dan Myles Lewis-Skelly, serta pernah menjadi bagian dari tim Inggris U-16. Wilhoft-King bahkan sempat merasakan latihan bersama tim utama Spurs di bawah asuhan Antonio Conte dan Manchester City dengan Pep Guardiola.
Namun, kariernya mulai terganggu ketika ia menderita cedera parah pada tahun 2022, saat masa beasiswa di Spurs. Cedera itu berulang di tahun kedua, menghambat perkembangannya.
Kondisi tersebut mendorong Wilhoft-King untuk mulai mempertimbangkan jalur pendidikan. Ia sempat menolak tawaran kontrak dari Spurs untuk melanjutkan studi di University of California, Los Angeles, pada 2025, dengan harapan bisa bermain bola sembari kuliah dan direkrut tim Major League Soccer (MLS).
Jelang masuk kuliah, Wilhoft-King sempat mendapat kontrak enam bulan dari FC Cincinnati 2. Tak lama setelah itu, Manchester City datang dengan tawaran kontrak setahun dengan opsi perpanjangan, yang akhirnya ia terima.
“Saat itu, rencana saya masih menjadi pemain profesional, dan saya merasa akan selalu menyesal jika tidak bergabung dengan Man City,” ujar Wilhoft-King kepada The Guardian.
Ia melanjutkan, “Saya selalu berpikir: ‘Bagaimana jika saya mengambil kesempatan itu?’ Sekarang saya sudah mendapatkannya dan saya bisa meninggalkan sepak bola dengan keyakinan bahwa saya telah memberikan yang terbaik. Itu jauh lebih menenangkan bagi saya.”
Di tim Manchester City U-21, Wilhoft-King sempat kembali bersinar dan berlatih dengan tim utama. Namun, cedera kembali menghantam, dan setelah pulih, ia menyadari bahwa peluangnya untuk menjadi pesepak bola profesional semakin menipis.
Selain cedera, Wilhoft-King juga mengaku mengalami penurunan motivasi sebagai pesepak bola. Hal inilah yang memicunya untuk kembali berkuliah, kali ini di Inggris. Ia diterima di Oxford University jurusan hukum. Meskipun tidak lagi di level profesional, Wilhoft-King masih tetap bermain sepak bola.
“Saya selalu merasa kurang terstimulasi di sepak bola. Jangan salah paham. Saya masih menyukainya. Tapi saya selalu merasa bisa berbuat lebih banyak. Saya membuang-buang waktu berjam-jam sehari. Saya butuh sesuatu yang berbeda dan Oxford membuat saya bersemangat; orang-orangnya juga,” terangnya.
“Saya rasa itulah alasannya. Cedera memang faktor besar, tapi itu jawaban gampang. Saya merasa butuh sesuatu yang lebih… terutama secara intelektual, yang terdengar agak sok. Tapi, ya, begitulah,” tambahnya.
Wilhoft-King mencontohkan, seandainya ia berkarier di League One atau Championship, kompetisi kasta kedua dan ketiga Liga Inggris, ia memang akan mendapatkan banyak uang, namun ia ragu bisa menikmati kehidupannya.
Oleh karena itu, ia memilih untuk fokus pada pendidikan dan memutuskan pensiun dini dari dunia sepak bola profesional.
“Skenario terbaiknya juga – Anda akan bermain selama 10-15 tahun dan setelah itu bagaimana? Saya pikir kuliah akan menyediakan platform bagi saya untuk melakukan sesuatu setidaknya lebih lama dari 10-15 tahun ke depan. Jadi, ini juga merupakan hal jangka panjang,” tegas Wilhoft-King.











