Udine – Uni Sepak Bola Eropa (UEFA) secara resmi membantah tuduhan bahwa spanduk bertuliskan “Stop killing children, stop killing civilians” yang dibentangkan dalam laga Piala Super UEFA 2025 bermuatan politis. Otoritas sepak bola tertinggi di Eropa tersebut menegaskan bahwa pesan yang ditampilkan merupakan seruan kemanusiaan murni, bukan pernyataan yang berafiliasi dengan kepentingan politik tertentu.
Insiden ini terjadi saat seremoni pembukaan laga Piala Super UEFA antara Paris Saint-Germain dan Tottenham Hotspur yang dihelat di Stadio Friuli, Udine, Italia. Sebanyak sembilan anak pengungsi dari berbagai wilayah konflik, termasuk Afganistan, Irak, Nigeria, Palestina, dan Ukraina, berpartisipasi dalam aksi tersebut. Mereka membentangkan spanduk di tengah lapangan sebagai bentuk penyampaian aspirasi global mengenai perlindungan terhadap warga sipil, khususnya anak-anak, di zona perang.
Selain aksi pembentangan spanduk, UEFA juga melibatkan dua anak pengungsi korban perang Israel-Palestina dalam upacara penyerahan medali. Kedua anak tersebut adalah Tala, seorang gadis Palestina berusia 12 tahun yang saat ini menjalani perawatan medis intensif di Milan, serta Mohamed, anak berusia 9 tahun yang kehilangan kedua orang tuanya akibat serangan udara di Jalur Gaza. UEFA secara eksplisit mendukung pesan tersebut melalui unggahan foto di akun media sosial resmi mereka. Dalam keterangannya, UEFA menulis bahwa pesan dari Udine tersebut terdengar sangat jelas sebagai sebuah seruan kemanusiaan universal.
Kendati UEFA bersikukuh bahwa tindakan tersebut berada dalam ranah kemanusiaan, langkah ini menuai kritik tajam dari berbagai pihak, termasuk tokoh sepak bola Israel. Laporan media lokal JFeed menyebutkan bahwa aksi tersebut dinilai munafik oleh sejumlah kalangan di Israel. Mereka mempertanyakan mengapa UEFA tidak mengambil sikap tegas terhadap peristiwa 7 Oktober 2023, sembari menyoroti kebijakan organisasi tersebut yang dianggap tidak konsisten.
Di sisi lain, publik sepak bola secara luas justru memberikan respons yang beragam. Sejumlah penggemar melalui media sosial melayangkan kekecewaan terhadap UEFA. Mereka menilai badan sepak bola tersebut kurang lantang dan tidak tegas, terutama terkait tuntutan agar tim nasional serta klub-klub asal Israel dilarang berpartisipasi dalam kompetisi Eropa. Kritikan ini semakin menguat seiring dengan sorotan publik atas kematian mantan pesepak bola Palestina, Suleiman Obeid.
Obeid, yang dikenal dengan julukan ‘Pele Palestina’, dilaporkan tewas ditembak oleh pasukan Israel saat sedang menunggu bantuan di Gaza. Obeid merupakan mantan pemain yang pernah memperkuat tim nasional Palestina sebanyak 24 kali dengan torehan dua gol. Sebelumnya, UEFA sempat memberikan tribut atas kematian Obeid, namun langkah tersebut dipertanyakan oleh bintang Liverpool, Mohamed Salah, yang menyoroti standar ganda dalam menyikapi konflik di Timur Tengah. Hingga kini, UEFA tetap berpegang pada aturan internal yang melarang pesan politik di stadion, namun mengecualikan pesan kemanusiaan dari batasan tersebut.











