Semarang – Keputusan pemain tim nasional Indonesia, Pratama Arhan, untuk bergabung dengan Persija Jakarta memicu polemik publik, terutama setelah mantan CEO PSIS Semarang, Yoyok Sukawi, mengungkapkan adanya perjanjian tertulis antara kedua belah pihak. Yoyok mengklaim bahwa Arhan terikat komitmen untuk kembali ke PSIS setelah merampungkan karier di luar negeri.

Yoyok Sukawi melalui media sosialnya menyatakan rasa kecewa atas langkah Arhan yang memilih berlabuh ke klub ibu kota tersebut. Ia merujuk pada dokumen perjanjian yang ditandatangani pada 21 Januari 2022. Dalam dokumen tersebut, disepakati bahwa Arhan diizinkan berkarier di luar negeri tanpa kompensasi transfer, namun wajib kembali ke PSIS saat memutuskan pulang ke Indonesia. Meski merasa dikhianati, Yoyok menyatakan tetap mendoakan kesuksesan karier Arhan di klub barunya.

Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari pihak Pratama Arhan maupun manajemen Persija Jakarta menanggapi klaim tersebut. Namun, sejumlah pengamat sepak bola menyoroti beberapa faktor krusial yang diduga melatarbelakangi keputusan Arhan untuk enggan kembali ke klub yang membesarkan namanya tersebut.

Salah satu kendala utama yang dihadapi PSIS Semarang adalah sanksi dari FIFA. Klub berjuluk Laskar Mahesa Jenar tersebut dijatuhi larangan pendaftaran pemain baru selama tiga periode bursa transfer berturut-turut, terhitung sejak akhir Mei 2026. Sanksi ini dijatuhkan akibat sengketa pemutusan kontrak pemain asing pada tahun 2025 serta persoalan tunggakan gaji. Kondisi ini membuat PSIS tidak memungkinkan untuk mendaftarkan Arhan sebagai pemain baru dalam waktu dekat, sehingga perjanjian yang diungkapkan Yoyok dinilai sulit untuk direalisasikan secara administratif.

Selain masalah sanksi, faktor penurunan kasta kompetisi turut menjadi perhatian. PSIS Semarang resmi terdegradasi ke Liga 2 pada 11 Mei 2025. Bagi pemain sekaliber tim nasional, berkompetisi di kasta kedua dinilai tidak ideal untuk menjaga performa di level tertinggi. Sebaliknya, Persija Jakarta menawarkan peluang lebih besar untuk bersaing dalam perebutan gelar juara di Super League musim 2026/2027, sekaligus membuka kans bagi Arhan untuk tampil di turnamen internasional.

Situasi ini memicu perdebatan di kalangan suporter. Sebagian pihak mempertanyakan langkah Yoyok Sukawi yang membawa polemik internal ke ranah publik, sementara pihak lain menyoroti realitas objektif yang dihadapi PSIS. Di sisi lain, dukungan bagi Arhan terus mengalir dari masyarakat yang berharap sang pemain dapat kembali menemukan performa terbaiknya bersama Persija Jakarta. Publik juga menaruh harapan agar PSIS Semarang mampu membenahi manajemen internal dan segera kembali ke kasta tertinggi sepak bola nasional setelah melewati masa sulit di Liga 2.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *