Kuala Lumpur – Sepak bola Malaysia tengah dirundung masalah setelah 26 pelatih dari Program Pengembangan Sepak Bola Nasional (NFDP) dan Akademi Mokhtar Dahari (AMD) tiba-tiba diputus kontraknya. Pemutusan kontrak ini dinilai tidak jelas dan tanpa pemberitahuan memadai.
Insiden ini memicu kebingungan dan kekhawatiran terkait pengelolaan serta arah pengembangan sepak bola usia muda di Malaysia.
Para pelatih menerima pemberitahuan melalui email pada Rabu (31/12/2025), namun dokumen resmi belum diterima. Sebelumnya, mereka hanya diberi tahu secara lisan melalui pertemuan daring pada 15 Desember.
“Kami tidak tahu harus meminta bantuan ke mana,” ujar salah seorang pelatih yang terdampak, mengungkapkan kebingungan dan kecemasan mereka.
Para pelatih merasa keputusan ini tidak sesuai dengan ketentuan perjanjian, terutama terkait periode pemberitahuan. Mereka mengaku kehilangan mata pencaharian dan berharap ada pemberitahuan lebih awal agar bisa mencari pekerjaan lain.
“Sama sekali tidak ada pemberitahuan resmi dan perencanaan untuk kami sebagai pelatih yang telah bergabung dengan program ini sejak 2012,” tambahnya.
Kebingungan diperparah dengan saran yang saling bertentangan mengenai langkah yang harus diambil. Ada yang menyarankan membawa kasus ini ke Pengadilan Industrial, ada pula yang menyarankan menghubungi Departemen Tenaga Kerja.
Meskipun menerima pemutusan kontrak, para pelatih merasa jangka waktu pemberitahuan yang singkat sangat sulit diterima.
Kasus ini diperkirakan akan terus menjadi kontroversi. Para pelatih mempertimbangkan langkah hukum untuk melindungi hak-hak mereka.
Sementara itu, Direktur Teknik NFDP, Datuk Ong Kim Swee, menyatakan pihaknya sedang berupaya mencari solusi terbaik. Ia meminta semua pihak memahami situasi transisi program dari Dewan Olahraga Nasional (MSN) ke Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM) yang belum sepenuhnya selesai. Ia juga mengklaim pertemuan dengan staf pelatih telah dilakukan dua minggu lalu dan masalah ini telah diberitahukan secara lisan.











