Padang – Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM) mengajukan banding atas sanksi FIFA terkait kasus pemalsuan dokumen tujuh pemain naturalisasi. Langkah ini memicu pertanyaan publik, mengingat bukti kuat yang dipaparkan FIFA.

FIFA sebelumnya menjatuhkan sanksi kepada FAM dan tujuh pemain naturalisasi Timnas Malaysia atas kasus tersebut. Alih-alih menerima keputusan, FAM tetap berkeras melakukan banding, meskipun masa banding yang diberikan FIFA telah berakhir sejak 26 September 2025. Mereka baru mengajukan banding setelah resmi disanksi pada 6 Oktober.

Para analis menilai, banding ini bukan hanya masalah hukum, tetapi juga upaya FAM menjaga semangat juang tim nasional. “Selagi masih ada kehidupan, masih ada harapan” menjadi prioritas utama di tengah tekanan publik. Proses banding diharapkan memberi Malaysia waktu mempersiapkan diri, menjaga stabilitas tim, dan melindungi citra di kancah kontinental.

Berbeda dengan FIFA, Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) masih memberikan kesempatan kepada Malaysia. Sekjen AFC, Datuk Seri Windsor Paul John menyatakan, Timnas Malaysia tetap diizinkan bermain di Kualifikasi Piala Asia 2027, sambil menunggu FAM menyelesaikan proses banding hingga 31 Maret 2026.

FAM dikabarkan mengerahkan seluruh sumber daya untuk membatalkan hukuman FIFA, termasuk menghubungi mitra dan tokoh berpengaruh. Dalam pernyataan terbarunya, FAM menegaskan kesimpulan investigasi FIFA “tidak akurat” dan meminta pengurangan hukuman menjadi denda administratif.

FAM mengklaim insiden tersebut bukan penipuan, melainkan kesalahan teknis administratif akibat kekeliruan karyawan yang mengunggah dokumen dari agen, bukan dokumen resmi. Mereka menegaskan selalu mematuhi peraturan organisasi sepak bola internasional dan akan mengajukan kasus ini secara transparan dengan dokumen asli yang sah.

“Kami berkomitmen untuk melindungi integritas sepak bola nasional berdasarkan fakta dan dokumen yang autentik,” demikian pernyataan FAM.

Namun, FIFA menegaskan bahwa ini adalah tindakan pemalsuan serius, bukan kesalahan administratif. Mereka menekankan integritas catatan pemain adalah fondasi sepak bola profesional.

Langkah banding FAM juga diyakini bertujuan menenangkan opini publik domestik yang memanas. Mereka ingin menunjukkan bahwa mereka mengendalikan situasi dan bertindak sesuai kerangka hukum.

FAM menolak mengungkapkan detail berkas, mengutip ‘Undang-Undang Rahasia Resmi tahun 1972’ dan ‘Undang-Undang Paspor tahun 1966’.

Media Vietnam, Thethao247.vn, menilai upaya banding FAM sebagai trik terselubung. “Apakah Federasi Sepak Bola Malaysia sedang bermain trik?” tulis mereka. “Penundaan ini merupakan cara FAM mencari jalan keluar yang aman, menjaga citra sepak bola Malaysia di hadapan AFC dan FIFA, serta meminimalkan efek berantai pada badan pengelola olahraga domestik.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *