Budapest – Pertandingan final Liga Champions musim 2025-2026 akan menjadi panggung sejarah bagi dua pelatih asal Spanyol, Luis Enrique dan Mikel Arteta. Keduanya dijadwalkan saling berhadapan di Puskas Arena, Budapest, pada Sabtu (30/5/2026), untuk memperebutkan trofi paling prestisius di kancah sepak bola antarklub Eropa tersebut.
Bagi Luis Enrique, laga ini merupakan kesempatan emas untuk mengukuhkan posisinya dalam buku sejarah kompetisi. Sebagai pelatih Paris Saint-Germain (PSG) yang berstatus sebagai juara bertahan, Enrique berambisi meraih gelar juara secara beruntun. Jika berhasil memenangkan pertandingan ini, ia akan bergabung dalam kelompok elite pelatih yang mampu mempertahankan gelar juara Liga Champions sejak format kompetisi berubah pada musim 1992-1993.
Sejauh ini, hanya Zinedine Zidane yang tercatat mampu memenangkan trofi Liga Champions secara berturut-turut, bahkan ia sukses melakukan pencapaian luar biasa dengan meraih gelar juara tiga musim beruntun bersama Real Madrid pada periode 2016 hingga 2018. Enrique, yang sebelumnya pernah membawa Barcelona menjuarai kompetisi ini pada 2014, mengaku memiliki motivasi tinggi untuk kembali mengangkat trofi tersebut.
“Ambisi kami untuk meraih gelar juara kedua jauh lebih besar dari sebelumnya. Itu sudah menjadi tujuan utama saya dan klub. Kami membuktikan pantas memenangkan kompetisi musim lalu berkat kualitas pemain dan dukungan fasilitas klub yang memadai,” ujar Enrique sebagaimana dikutip dari pernyataan resminya menjelang laga final.
Di sisi lain, Mikel Arteta datang dengan tekad untuk mencatatkan namanya sebagai pelatih juara baru dalam sejarah Liga Champions bersama Arsenal. Duel ini dipastikan akan dimenangkan oleh juru taktik asal Spanyol, yang secara otomatis akan membuat pelatih-pelatih dari Negeri Matador mengumpulkan total 14 gelar juara sepanjang sejarah kompetisi. Angka tersebut akan melampaui koleksi trofi yang diraih oleh para pelatih asal Italia, yang kini mengumpulkan 13 gelar.
Dominasi pelatih dalam mempertahankan gelar sebenarnya bukan hal baru jika menilik sejarah era Piala Champions sebelum 1992. Nama-nama besar seperti Arrigo Sacchi (AC Milan), Brian Clough (Nottingham Forest), Bob Paisley (Liverpool), hingga Dettmar Cramer (Bayern Munchen) pernah merasakan manisnya kemenangan beruntun. Begitu pula dengan Stefan Kovacs, Helenio Herrera, Bela Guttmann, Luis Carniglia, dan Jose Villalonga yang sempat mencatatkan pencapaian serupa di masa lalu.
Kini, sorotan tertuju pada Puskas Arena apakah Enrique mampu menyamai rekor legendaris tersebut atau justru Arteta yang akan mengukir sejarah baru bagi karier kepelatihannya. Pertarungan taktik antara dua pelatih Spanyol ini diprediksi akan berlangsung sengit mengingat besarnya keinginan kedua klub untuk menguasai Eropa. Hasil akhir pertandingan ini tidak hanya menentukan siapa yang berhak membawa pulang trofi, tetapi juga akan mempertegas dominasi pelatih asal Spanyol dalam kancah sepak bola internasional.









