Leicester – Mantan penyerang Leicester City, Jamie Vardy, mengungkapkan pengalamannya yang kontras saat menjalani karier singkat di Italia bersama klub Cremonese. Dalam siniar miliknya, Jamie Vardy’s Having A Party, ia menyoroti perbedaan fundamental antara metode latihan di Italia dan Inggris yang menurutnya sangat memengaruhi performa pemain di lapangan.
Vardy secara spesifik mengkritik intensitas latihan di Italia yang dianggapnya berlebihan. Ia menyebut sesi latihan di Cremonese didominasi oleh aktivitas fisik yang berat dan bersifat repetitif, terutama lari tanpa variasi taktis yang signifikan. Menurutnya, pola latihan tersebut justru menguras energi pemain sebelum mereka memasuki hari pertandingan yang sesungguhnya.
“Latihan di sana terasa sangat padat. Kamu banyak lari, terus lari lagi. Sampai akhirnya energi benar-benar habis ketika masuk pertandingan,” ujar Vardy dalam siniar tersebut.
Selain porsi latihan, pemain yang dikenal dengan gaya bermain eksplosif ini juga membedah perbedaan ritme permainan antara Serie A dan Premier League. Vardy menilai Serie A cenderung menerapkan permainan yang lebih lambat dan mengutamakan sisi defensif. Sebaliknya, Premier League baginya menawarkan dinamika yang jauh lebih cepat dan intensitas tinggi sejak peluit babak pertama dibunyikan.
Vardy memberikan contoh konkret saat timnya bersiap menghadapi Bologna. Saat itu, staf pelatih sempat mencoba menerapkan pola pemulihan dengan mengistirahatkan pemain selama sehari penuh setelah laga sebelumnya, sebuah metode yang lazim ditemukan di Inggris. Hasilnya, tim tampil jauh lebih segar dan sukses memetik kemenangan dengan skor 3-1.
Namun, Vardy menyayangkan bahwa pendekatan tersebut tidak konsisten dijalankan. Staf pelatih tetap bersikeras mempertahankan pola latihan berat karena menganggap setiap pertandingan di Italia memiliki urgensi setara dengan laga final. Vardy menilai pandangan tersebut kurang tepat karena manajemen energi pemain seharusnya tetap menjadi prioritas utama sepanjang musim kompetisi.
“Di sana setiap laga dianggap final, jadi latihan tetap keras. Tapi menurut saya, semua pertandingan memang penting,” tambah Vardy.
Komentar Vardy ini kembali memicu perdebatan panjang mengenai perbedaan filosofi kepelatihan di liga-liga top Eropa. Pendekatan Italia sering kali dikaitkan dengan disiplin fisik yang ketat dan struktur taktis yang kaku, sementara sepak bola Inggris lebih menekankan pada tempo permainan dan intensitas pergerakan.
Meskipun durasi karier Vardy di Italia tergolong singkat, pengalamannya tersebut memberikan perspektif unik bagi para pengamat sepak bola. Cerita ini mempertegas betapa kontrasnya budaya sepak bola antarnegara, yang menuntut pemain untuk memiliki kemampuan adaptasi tinggi dalam memahami tuntutan fisik dan taktis yang berbeda di setiap kompetisi. Pengalaman Vardy ini menjadi catatan menarik mengenai bagaimana metode latihan tradisional di beberapa negara Eropa mungkin perlu disesuaikan dengan kebutuhan pemulihan fisik pemain modern yang sangat padat.










