Padang – Jepang dikabarkan serius mempertimbangkan untuk keluar dari Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) dan membentuk federasi baru di kawasan Asia Timur. Keputusan ini didorong oleh ketidakpuasan mendalam terhadap praktik manipulasi, ketidakadilan kebijakan, dan dominasi berlebihan negara tertentu di dalam tubuh AFC.
Asosiasi Sepak Bola Jepang (JFA) merasa bahwa langkah ini perlu diambil demi menciptakan tata kelola sepak bola yang lebih bersih dan transparan. Berikut adalah empat alasan utama yang mendasari rencana besar Jepang ini:
1. Dominasi Qatar dalam Struktur AFC
JFA menilai Qatar memiliki pengaruh yang terlalu besar dalam pengambilan keputusan penting di AFC, termasuk pengaturan turnamen dan kebijakan kompetisi. Situasi ini dianggap menciptakan ketidakseimbangan dan merugikan anggota federasi lainnya. Jepang merasa keputusan AFC sering kali menguntungkan Qatar dan sekutunya, merusak prinsip keadilan dan sportivitas.
2. Keputusan Kontroversial di Liga Champions Asia Elite (ACLE)
Kemarahan JFA memuncak akibat penyelenggaraan AFC Champions League Elite di Arab Saudi. Keputusan terkait penjadwalan dan pengunduran diri Shandong Taishan merugikan klub Jepang, Vissel Kobe, yang mengalami penurunan peringkat secara tidak adil. Anehnya, Kobe justru didenda 10.000 dolar AS oleh AFC, yang dianggap JFA sebagai bentuk ketidakprofesionalan dan standar ganda.
3. Ketidakadilan Perlakuan terhadap Klub dan Pemain Jepang
JFA juga mengeluhkan penjadwalan kompetisi yang tidak mempertimbangkan kondisi fisik dan komitmen pemain Jepang di Eropa. Klub-klub Jepang kerap menghadapi jadwal pertandingan yang bertabrakan dengan kalender internasional, mempengaruhi performa pemain seperti Takefusa Kubo. JFA menilai AFC kurang menghormati keseimbangan dan kepentingan klub Jepang di kancah internasional.
4. Dorongan Pembentukan Federasi Baru yang Lebih Adil
Sebagai respons atas ketidakadilan ini, Jepang mempertimbangkan pembentukan Federasi Sepak Bola Asia Timur yang lebih transparan dan profesional. Federasi baru ini diharapkan dapat menaungi negara-negara yang memiliki visi yang sama tentang tata kelola sepak bola yang bersih. Irak dikabarkan tertarik untuk bergabung jika rencana Jepang ini terwujud. Langkah ini berpotensi mengubah peta kekuatan dan struktur sepak bola di Asia secara signifikan.











