Padang – FIFA menjatuhkan denda sebesar 350.000 franc Swiss (sekitar Rp7,3 miliar) kepada Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM) atas pemalsuan dokumen pemain naturalisasi yang tampil di Kualifikasi Piala Asia 2027. Selain denda, tujuh pemain naturalisasi juga diskors dari aktivitas sepak bola selama 12 bulan dan masing-masing didenda 2.000 franc Swiss (Rp41,7 juta).

FIFA menyatakan memiliki bukti kuat terkait pemalsuan dokumen tersebut. Dalam dokumen setebal 19 halaman yang dirilis pada 6 Oktober, FIFA membutuhkan waktu lebih dari dua bulan untuk mengumpulkan informasi lengkap sejak menerima pengaduan pada 11 Juni hingga membuka proses pada 22 Agustus.

Komite Disiplin FIFA menyoroti bahwa kemudahan FIFA dalam memperoleh dokumen asli menunjukkan bahwa FAM dan para pemain gagal melakukan pemeriksaan yang diperlukan.

FIFA mengungkapkan bahwa FAM telah dihubungi oleh pihak eksternal mengenai asal-usul pemain, namun tidak melakukan verifikasi keaslian dokumen. Hal ini mengindikasikan kurangnya kehati-hatian atau bahkan niat tertentu.

FIFA memiliki basis data pemain global yang akurat dan konsisten, termasuk Transfer Matching System (TMS) yang digunakan sejak 2010 dan FIFA Clearing House (FCH) yang beroperasi sejak November 2022. Sistem ini mempermudah deteksi potensi kecurangan dalam catatan kewarganegaraan atau registrasi pemain.

FIFA membandingkan tiga jenis dokumen, termasuk salinan dari FAM, salinan yang diterbitkan ulang oleh Departemen Registrasi Nasional (NRD) Malaysia, dan dokumen asli dari lembaga asing. Hasilnya menunjukkan perbedaan tempat lahir pada silsilah (kakek/nenek) dari ketujuh pemain naturalisasi.

NRD mengakui tidak pernah menerima dokumen asli, melainkan hanya mengandalkan dokumen asing yang diberikan oleh keluarga pemain untuk menerbitkan kembali akta kelahiran. FIFA menilai FAM seharusnya dapat memperoleh dokumen asli jika mengikuti prosedur yang benar.

Ketujuh pemain yang terlibat adalah Hector Hevel, Gabriel Palmero, Facundo Garces, Rodrigo Holgado, Imanol Machuca, Joao Figueireido, dan Jon Irazabal.

FIFA menegaskan bahwa pemalsuan dokumen untuk bermain bagi suatu negara adalah kecurangan yang tidak dapat ditoleransi. Tindakan ini dianggap sebagai upaya mengakali hukum demi keuntungan pribadi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *