Kuala Lumpur – Skandal dokumen palsu pemain naturalisasi Timnas Malaysia terus menjadi sorotan. Terungkapnya kasus ini oleh FIFA telah mencoreng integritas Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM).

Tokoh sepak bola senior Malaysia, Datuk M. Karathu, mendesak FAM untuk memberikan penjelasan terbuka terkait proses naturalisasi yang bermasalah ini. Ia mempertanyakan peran FAM dan pihak-pihak yang terlibat dalam perekrutan tujuh pemain naturalisasi yang kini disanksi FIFA.

“Kita perlu tahu bagaimana itu dilakukan, apakah melalui agen?” kata Datuk M. Karathu, seperti dikutip dari TheStar.com.my.

Karathu juga menyoroti usia para pemain naturalisasi yang umumnya berada di rentang 28 hingga 30 tahun. Ia mempertanyakan alasan pemain-pemain tersebut memilih untuk membela Malaysia di usia yang relatif matang. Pria berusia 82 tahun itu menekankan pentingnya transparansi FAM untuk menyelesaikan masalah ini dan mencegahnya terulang kembali.

Pada Januari 2025, FAM sempat menyatakan bahwa mereka tidak terlibat dalam proses perekrutan pemain naturalisasi. Datuk Mohd Yusoff Mahadi, yang saat itu menjabat sebagai Wakil Presiden FAM, menyatakan bahwa tanggung jawab perekrutan sepenuhnya berada di tangan manajemen baru Harimau Malaya.

FAM hanya bertugas membantu dalam hal dokumentasi dan beberapa hal lainnya. “FAM telah menyerahkan kepada manajemen Harimau Malaya untuk mencari dan merekrut pemain keturunan untuk memperkuat skuad Harimau Malaya,” ujar Yusoff Mahadi saat itu.

Laporan lain menyebutkan bahwa Tunku Ismail Idris, anak Sultan Johor, memiliki peran penting dalam proses naturalisasi ini. Ia disebut menekan pemerintah Malaysia untuk memperlancar pengurusan paspor para pemain naturalisasi.

“Sultan Johor, Tunku Ismail, mengungkapkan timnas akan diperkuat sedikitnya enam pemain keturunan Grade A. Oleh karena itu, Tunku Ismail meminta kerja sama pemerintah untuk membantu memperlancar urusan sejumlah pihak dalam pengurusan paspor negara ini,” tulis Berita Harian pada 21 Januari 2025.

Menyusul terbongkarnya kasus naturalisasi palsu ini, FAM mengakui adanya kesalahan. Namun, Tunku Ismail justru menuding pihak asing, termasuk Indonesia, sebagai pihak yang melaporkan kasus ini ke FIFA. Perkembangan kasus naturalisasi palsu ini terus dinantikan publik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *