Karanganyar – Babak 32 besar Piala Dunia 2026 menyajikan skenario persaingan yang tidak lazim bagi tim-tim besar asal Eropa. Sebanyak sepuluh dari tiga belas negara benua biru terkonsentrasi di sisi kiri bagan turnamen, memicu potensi pertemuan antarnegara unggulan lebih dini sebelum mencapai babak semifinal.
Negara-negara tersebut meliputi Jerman, Prancis, Swedia, Belanda, Portugal, Kroasia, Spanyol, Austria, Bosnia dan Herzegovina, serta Belgia. Sebaliknya, sisi kanan bagan hanya diisi oleh tiga negara Eropa, yakni Norwegia, Inggris, dan Swiss, yang akan lebih banyak berhadapan dengan lawan-lawan dari Amerika Selatan.
Kondisi ketimpangan bagan ini menjadi sorotan dalam diskusi podcast Super Taktik bertajuk Babak Baru Piala Dunia 2026: Eropa Saling Jegal, Argentina Mulus? yang menghadirkan pengamat sepak bola, Agung Iqbal Ramadhan dan Hamid Anwar. Menurut Agung, konsentrasi tim elite di satu sisi akan memangkas peluang mereka untuk melaju jauh karena risiko saling menyingkirkan satu sama lain.
Jerman, misalnya, dijadwalkan menghadapi Paraguay di babak 32 besar. Jika berhasil melaju, tim asuhan Julian Nagelsmann tersebut berpotensi bertemu pemenang antara Prancis dan Swedia. Prancis sendiri saat ini menjadi tim yang paling difavoritkan oleh data statistik Opta untuk menjuarai turnamen. Di sisi lain, Belanda akan menguji kekuatan melawan semifinalis edisi sebelumnya, Maroko, sementara Portugal dijadwalkan bersua Kroasia. Pertemuan sesama tim kuat juga berpotensi terjadi di babak 16 besar, seperti skenario Portugal yang mungkin akan menantang Spanyol.
Kendati status unggulan melekat pada negara-negara tersebut, Agung Iqbal menegaskan bahwa sepak bola tidak selalu mengikuti logika di atas kertas. Faktor dewi fortuna atau keberuntungan memegang peranan krusial yang tidak bisa diabaikan. Ia mencontohkan keberhasilan tim debutan Cape Verde yang mampu melaju ke fase gugur meski hanya mencetak dua gol dan tidak meraih kemenangan di fase grup. Hal tersebut membuktikan bahwa tim yang dianggap pelengkap pun mampu memberikan kejutan.
Jerman sendiri menunjukkan inkonsistensi performa sepanjang fase grup. Setelah menang telak 7-1 atas Curacao, Jerman sempat menang tipis 2-1 atas Pantai Gading sebelum akhirnya takluk dari Ekuador dengan skor identik. Fakta ini mempertegas bahwa dominasi taktikal di satu laga tidak menjamin keberlanjutan hasil di pertandingan berikutnya.
Secara teknis, Agung menekankan bahwa kontrol lini tengah akan menjadi penentu utama siapa yang akan melangkah lebih jauh. Lini tengah berperan sebagai jembatan yang menghubungkan pertahanan dan penyerangan. Tim yang mampu menguasai ritme permainan melalui distribusi bola yang akurat di sektor tengah akan memiliki peluang lebih besar untuk meraih kemenangan.
Menatap babak gugur, Agung memprediksi Jerman akan mampu menembus dominasi di sisi kiri bagan dan melaju hingga partai puncak. Jika skenario tersebut berjalan mulus, Jerman berpeluang besar menghadapi Inggris di babak final. Inggris sendiri diprediksi memiliki jalur yang relatif lebih ringan di sisi kanan, meski tetap harus mewaspadai ancaman dari raksasa Amerika Selatan seperti Brasil dan Argentina di fase perempat final atau semifinal.










