Sport Sumbar – Performa Francesco Bagnaia di tim Ducati Lenovo tengah menjadi sorotan tajam usai mengalami penurunan performa yang signifikan. Mimpi buruk kembali menghantui sang juara dunia MotoGP tersebut.
Kebanggaan atas kemenangan ganda di GP Jepang kini sirna, digantikan keterpurukan di GP Indonesia dan GP Australia. Bagnaia tampak tak berdaya setelah sempat menunjukkan titik balik di Motegi.
Banyak komentator yang sebelumnya menilai bahwa kekuatan sebenarnya Bagnaia telah muncul, namun kedigdayaannya hanya berlangsung sesaat. Pembalap asal Turin, Italia, itu kembali terperosok.
Hasil minor ini membuat masa depan Bagnaia di Ducati Lenovo menjadi pertanyaan besar. Rumor liar mulai beredar di paddock, menambah tekanan bagi sang juara dunia tiga kali itu.
Surat kabar Italia, La Gazzetta dello Sport, bahkan menyebut hubungan Ducati dengan Bagnaia mulai rapuh. Komentar Bagnaia yang sering bertentangan dengan tindakan Ducati, terutama kru tim, menjadi penyebabnya.
Bagnaia terus menuntut dan mengeluhkan sejumlah bagian motor, sementara Ducati dikabarkan sudah kehilangan kesabaran. Padahal, Desmosedici GP25 tidak hanya digunakan oleh Bagnaia, tetapi juga oleh Marc Marquez dan Fabio Di Giannantonio (VR46).
“Bukan kebetulan bahwa Borgo Panigale sedang mempertimbangkan beberapa pebalap muda yang bisa menggantikan juara dunia MotoGP dua kali tersebut,” tulis La Gazzetta dello Sport.
Setidaknya ada empat pembalap yang berpotensi menggantikan Bagnaia di kursi pabrikan Ducati. Nama pertama adalah Pedro Acosta dari Red Bull KTM, disusul Fermin Aldeguer yang berstatus rookie.
Dua nama lainnya yang cukup menarik perhatian adalah David Alonso dari kelas Moto2 dan Fabio Quartararo, pembalap andalan Monster Energy Yamaha.
“Pertama dan terutama, Pedro Acosta, yang mempertimbangkan calon superstar MotoGP tersebut; Fermin Aldeguer, sebagai pertaruhan langsung yang sebagian telah membuahkan hasil; atau David Alonso sebagai investasi jangka panjang,” ulas La Gazzetta.
“Belum lagi, sebagai tujuan bergengsi dan sedikit berjangka panjang, prospek merekrut Fabio Quartararo, yang terikat kontrak 12 juta euro per tahun dengan Yamaha hingga akhir 2026, tetapi semakin tidak puas dengan minimnya peningkatan performa dari pabrikan garpu tala tersebut, bisa jadi opsi.”











