Yogyakarta – Dokter Tirta Mandira Hudhi, atau yang lebih dikenal sebagai dr. Tirta, baru-baru ini menjalani Cardiopulmonary Exercise Test (CPET) di Rumah Sakit Akademik (RSA) Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk mengevaluasi performa tubuhnya saat berolahraga. Tes ini dilakukan bukan karena sakit, melainkan sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan dan meningkatkan performa dalam olahraga lari yang menjadi hobinya.
CPET dilakukan untuk mendapatkan gambaran komprehensif tentang kondisi jantung dan paru-paru dr. Tirta saat beraktivitas fisik. Selain mengukur VO2 Max, tes ini juga meliputi berbagai indikator penting lainnya.
Sebagai seorang penggemar olahraga, dr. Tirta ingin memastikan bahwa jantung dan paru-parunya tetap aman selama latihan. Ia juga menekankan pentingnya CPET sebagai alat prediksi untuk mengetahui kapan harus meningkatkan intensitas latihan atau beristirahat saat mengikuti perlombaan.
“CPET ini penting agar selama olahraga jantung dan paru-paru tetap aman,” ujar dr. Tirta.
Tahun ini, dr. Tirta telah menyelesaikan maraton pertamanya di Berlin Marathon 2025. Ia juga berambisi untuk meraih Six Star Medal dari berbagai maraton dunia yang memiliki jarak 42 km.
Hasil CPET menunjukkan kondisi tubuh dr. Tirta yang baik, dengan komposisi tubuh dan massa otot yang ideal. Kadar oksigen dan karbondioksida dalam tubuhnya juga seimbang.
dr. Tirta juga memanfaatkan momen ini untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya melakukan CPET secara rutin, terutama bagi mereka yang aktif berolahraga. Ia mengingatkan bahwa tes ini dapat membantu mengetahui performa tubuh dan menjaga kesehatan jantung serta paru-paru.
“CPET disebut penting oleh dr. Tirta setahun sekali kalau jika rutin ikut event,” ungkapnya.
Dengan menjaga kesehatan dan melakukan evaluasi rutin seperti CPET, dr. Tirta berharap dapat terus menikmati hobinya berolahraga dan menjadi contoh bagi masyarakat untuk hidup sehat. Ia juga ingin memastikan dirinya tetap fit agar bisa berolahraga bersama anak-anaknya kelak.











