Nuevo Leon – Maroko kembali menunjukkan kekuatan spiritualnya dalam sepak bola setelah menyingkirkan Belanda di babak 32 besar Piala Dunia 2026 melalui adu penalti dengan skor 3-2 di Estadio Monterrey, Guadalupe, Selasa (30/6/2026) pagi WIB. Momen doa bersama sebelum adu penalti dan sujud syukur usai pertandingan menjadi sorotan utama, menguatkan identitas unik tim nasional yang dikenal sebagai Singa Atlas.

Sebelum adu penalti dimulai, para pemain Maroko berkumpul membentuk lingkaran bersama pelatih Mohamed Ouahbi untuk berdoa dengan khusyuk. Setelah Ismael Saibari mengeksekusi penalti terakhir yang menentukan kemenangan, dan kiper Yassine Bounou melakukan beberapa penyelamatan krusial, seluruh tim langsung melakukan sujud syukur di tengah lapangan. Tradisi ini menjadi bagian penting dari budaya tim, di mana para pemain menyentuhkan kening ke rumput sebagai ungkapan rasa syukur sebelum merayakan bersama rekan dan keluarga.

Momen spiritual ini langsung viral di media sosial, menarik perhatian banyak penggemar yang mengapresiasi bagaimana tekanan pertandingan besar dipadukan dengan keyakinan yang kuat. Alih-alih fokus pada strategi atau urutan penendang, doa bersama dipilih sebagai cara memperkuat mental para pemain sebelum menghadapi titik penalti.

Tradisi berdoa dan sujud syukur bukan hal baru bagi Maroko. Sejak Piala Dunia 2022 di Qatar, momen serupa sudah menjadi ciri khas mereka. Setiap kemenangan penting, mulai dari fase grup melawan Belgia dan Kanada hingga babak knockout melawan Spanyol dan Portugal, selalu diakhiri dengan sujud syukur massal di tengah lapangan.

Momen paling berkesan terjadi saat Maroko menyingkirkan Spanyol lewat adu penalti di babak 16 besar, ketika seluruh pemain bersujud di rumput Stadion Education City sebelum berlari memeluk keluarga mereka. Tradisi ini berlanjut hingga semifinal, meski kalah dari Prancis, para pemain tetap melakukan sujud syukur sebagai bentuk penghormatan atas pencapaian bersejarah mereka.

Empat tahun kemudian, tradisi spiritual itu kembali menghidupkan semangat Singa Atlas di Piala Dunia 2026. Doa bersama dan sujud syukur usai menyingkirkan Belanda menegaskan bahwa bagi Maroko, sepak bola bukan sekadar soal teknik dan hasil, melainkan juga nilai spiritual yang menginspirasi jutaan penggemar di seluruh dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *