Gedung Putih – Justin Gaethje berhasil mematahkan rekor tak terkalahkan Ilia Topuria sekaligus mengukir sejarah dengan merebut sabuk juara kelas ringan UFC pada ajang UFC Freedom 250. Kemenangan ini menjadi titik balik penting dalam perjalanan karier Gaethje yang telah lama menantikan gelar juara dunia.
Pertarungan berlangsung ketat sejak awal, namun momentum berubah drastis pada ronde ketiga ketika Gaethje mulai menguasai laga. Tekanan yang terus diberikan membuat Topuria mengalami luka serius hingga timnya memutuskan menghentikan pertarungan antara ronde keempat dan kelima.
Gaethje mengungkapkan bahwa kegagalan Topuria menyelesaikan pertarungan lebih cepat sesuai prediksinya menjadi momen krusial. “Ketika dia tidak berhasil menyelesaikan pertarungan di ronde kedua, saya rasa itu benar-benar memengaruhi semangatnya,” kata Gaethje dalam konferensi pers usai laga.
Petarung asal Amerika Serikat itu menilai pernyataan percaya diri Topuria sebelum bertarung justru menjadi beban mental bagi lawannya. “Dia benar-benar memojokkan dirinya sendiri dengan mengatakan bahwa dia akan sangat dominan,” tambah Gaethje.
Tekanan mental semakin terasa saat pertarungan berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan. Gaethje menjelaskan, “Ketika Anda memasuki ronde kedua, Anda akan berpikir, ‘Apa-apaan ini?’ Dan ketika kita memasuki ronde ketiga, Anda akan berpikir, ‘Apa-apaan ini?’ Itulah yang saya lakukan malam ini.”
Kemenangan ini menjadi pencapaian istimewa bagi Gaethje setelah hampir satu dekade berkarier di UFC. Sebelumnya, ia sempat dua kali gagal merebut gelar juara dunia, yakni saat menghadapi Khabib Nurmagomedov pada 2020 dan Charles Oliveira pada 2022. Kini, impian Gaethje untuk menjadi juara dunia akhirnya terwujud.










