Surabaya – Bintang Persebaya Surabaya, Francisco Rivera, mencuri perhatian publik sepak bola nasional bukan hanya karena performanya di lapangan, tetapi juga karena kerendahan hatinya. Rivera memilih membagikan hadiah handphone yang diraihnya sebagai pemain terbaik pertandingan (POTM) kepada staf pelatih tim sebagai bentuk apresiasi.

Momen ini terjadi setelah Rivera kembali bermain usai menjalani hukuman larangan bermain yang sempat membuat Persebaya kesulitan. Kehadirannya langsung memberikan efek signifikan dan menjadi titik balik kebangkitan tim.

Persebaya Surabaya tampil meyakinkan saat menjamu Persijap Jepara pada laga tunda pekan ke-8 Super League 2025/2026 di Stadion Gelora Bung Tomo, Minggu (28/12/2025), dengan kemenangan telak 4-0.

Dominasi Persebaya terlihat sejak babak pertama lewat gol Bruno Moreira (26′) dan Leo Lelis (38′). Rivera ikut mencetak gol pada menit ke-80, sebelum Mihailo Perovic menutup kemenangan di menit ke-85.

“Kami sangat senang atas tiga poin ini. Kami pantas mendapatkannya setelah hasil imbang, kami bermain bagus dan pantas mendapatkan tiga poin,” kata Rivera.

Penampilan impresif tersebut mengantar Rivera meraih gelar POTM. Meski demikian, gelandang asal Meksiko itu menolak menempatkan diri sebagai pusat cerita kemenangan.

“Ini salah satu pertandingan terbaik, karena saya memberi assist dan mencetak gol. Ini adalah penghargaan untuk seluruh tim, kami bekerja sangat keras,” imbuhnya.

Musim ini, Rivera menjelma menjadi sosok krusial di lini tengah Persebaya. Dari 11 laga, pemain berusia 31 tahun itu sudah empat kali menyabet gelar pemain terbaik pertandingan.

Penghargaan tersebut diraih saat Persebaya menumbangkan Persita 0-1, Bali United 5-2, dan Persis Solo 2-1. Terbaru, Rivera kembali terpilih sebagai yang terbaik saat Persebaya membantai Persijap Jepara 4-0.

Setiap gelar pemain terbaik selalu disertai hadiah satu unit handphone dari penyelenggara. Bagi Rivera, hadiah itu bukan sekadar simbol prestasi pribadi di lapangan.

“Tapi ini (pemain terbaik) berkat kerja seluruh tim, ini adalah penghargaan untuk seluruh tim yang sudah bekerja sangat keras,” kata Rivera.

“Dan karena alasan ini, aku memberikan ponsel kepada staf, kepada setiap orang yang kuambil ponselnya,” sambungnya.

Rivera memilih menjaga privasi sosok-sosok yang menerima handphone tersebut. Ia hanya menekankan arti penting peran staf di balik layar tim.

“Aku tidak perlu mengatakannya, tetapi sebelum aku memberikannya kepada mereka, mereka mungkin juga merupakan semangat Persebaya,” ujar Rivera.

“Jadi, kita menghargai kerja keras,” pungkasnya.

Tindakan Rivera ini menghadirkan sisi human interest yang kuat di tengah kerasnya kompetisi Liga Indonesia. Sikap berbagi itu memperlihatkan makna sedekah dalam konteks sepak bola profesional.

Staf pelatih dan pendukung tim sering bekerja tanpa sorotan kamera atau tepuk tangan stadion. Lewat gestur sederhana, Rivera mengangkat peran mereka sebagai bagian penting dari perjalanan Persebaya Surabaya.

Di mata publik, sikap tersebut mempertegas karakter kepemimpinan Rivera di ruang ganti. Ia tidak hanya memimpin lewat kaki, tetapi juga melalui keteladanan sikap.

Kemenangan besar atas Persijap turut memperkuat narasi kebangkitan Persebaya musim ini. Tim kembali menemukan ritme permainan setelah sempat tersendat akibat absennya beberapa pilar.

Rivera menjadi simbol energi baru yang menyatukan semangat pemain, pelatih, dan staf. Keberadaannya membuat aliran bola Persebaya lebih hidup dan terorganisasi.

Para suporter pun menyambut kisah sedekah ini dengan rasa bangga. Di tengah euforia kemenangan, nilai kebersamaan terasa semakin kuat.

Larangan bermain yang sempat dijalani Rivera kini seolah terbayar lunas. Ia kembali dengan kontribusi nyata dan sikap yang menginspirasi banyak pihak.

Peran Rivera di lini tengah tidak hanya terlihat dari gol dan assist. Ia juga menjadi penghubung emosi tim, terutama saat Persebaya membutuhkan figur penenang.

Budaya saling menghargai seperti ini memberi warna positif bagi kompetisi. Sepak bola tidak melulu soal skor akhir, tetapi juga nilai yang dibangun di dalam tim.

Kisah sedekah Francisco Rivera memperlihatkan makna sederhana dari sebuah penghargaan. Handphone itu berubah menjadi simbol terima kasih dan solidaritas.

Persebaya kini tidak hanya berbicara soal kemenangan besar di papan skor. Cerita kecil penuh makna dari ruang ganti justru memberi resonansi lebih panjang bagi publik sepak bola nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *