Padang – Sepak bola Malaysia tengah menghadapi krisis akibat sanksi FIFA terkait kasus pemalsuan dokumen pemain naturalisasi. Tujuh pemain naturalisasi timnas Malaysia dihukum larangan bermain selama 12 bulan dan Asosiasi Sepak Bola Malaysia (FAM) didenda.
FIFA menyatakan FAM menyerahkan dokumen palsu untuk mendaftarkan tujuh pemain. Banding FAM dan para pemain ditolak, namun FAM berencana membawa kasus ini ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS).
Pakar sepak bola asal Inggris, Steve Darby, menilai Malaysia belum belajar dari kesalahan skandal pengaturan skor tahun 1994.
“Saya pikir FIFA tidak punya pilihan setelah mereka memiliki bukti resmi mengenai tempat kelahiran kakek-nenek tersebut,” kata Darby seperti dikutip Timesport.
Darby heran mengapa tujuh pemain sekaligus lolos tanpa menimbulkan kecurigaan, apalagi hal itu memungkinkan kemenangan atas Vietnam (4-0) di Kualifikasi Piala Asia.
Skandal pengaturan skor 1994, yang melibatkan lebih dari 100 pemain dan pelatih, mengguncang sepak bola Malaysia. Sebanyak 58 pemain dilarang bermain selama empat tahun dan beberapa lainnya seumur hidup.
Darby meyakini akar masalah ini adalah kegagalan sistemik, tata kelola lemah, dan garis moral yang kabur. Ia merasa kasihan pada para pemain yang menjadi sasaran empuk.
“Penyelidikan harus mencari siapa otak di balik ide pemalsuan dan siapa yang memungkinkannya terjadi,” tegas Darby.
Darby tidak terkejut FIFA menyebut tindakan FAM membahayakan hakikat sepak bola. “Perilaku seperti itu mengikis kepercayaan terhadap keadilan kompetisi,” ujarnya.
Menurut Darby, sepak bola Malaysia memiliki potensi besar yang dirusak oleh kesalahan administratif. Malaysia punya bakat dan sumber daya untuk menjadi yang terbaik, tetapi kualitas kepemimpinan dan perencanaan jangka panjang harus ditingkatkan.
“Skandal yang berbeda, cerita yang sama. Semoga kali ini Malaysia akhirnya belajar darinya,” pungkas Darby.











