AMERIKA SERIKAT – Performa gelandang tim nasional Inggris, Declan Rice, menjadi sorotan tajam setelah tampil kurang optimal pada laga pembuka Grup L Piala Dunia 2026 melawan Kroasia, Kamis (18/6/2026). Meski Inggris berhasil meraih kemenangan dengan skor 4-2, Rice dinilai gagal memberikan kontribusi maksimal di lini tengah sebelum akhirnya ditarik keluar oleh pelatih Thomas Tuchel pada menit ke-72 dan digantikan oleh Morgan Rogers.

Penurunan performa pemain berusia 27 tahun ini diduga kuat merupakan dampak dari akumulasi kelelahan fisik yang ekstrem. Sejak tahun 2020, Rice tercatat telah melakoni 360 pertandingan kompetitif, dengan rata-rata 60 laga per musim. Beban kerja yang sangat tinggi ini berlanjut pada musim 2025-2026, di mana Rice menjadi pilar utama Arsenal yang berlaga hingga tahap akhir di kompetisi domestik maupun Liga Champions.

Media Inggris, The Guardian, menyoroti kondisi fisik sang pemain dengan menyebut bahwa Rice telah kehabisan energi setelah menjalani karier profesional selama enam tahun tanpa jeda yang berarti. Meskipun ketahanan fisik Rice selama ini dipuji karena jarang mengalami cedera, jadwal pertandingan yang sangat padat secara terus-menerus telah membuat kondisi fisiknya mencapai batas maksimal.

Pelatih Thomas Tuchel mengakui bahwa penampilan Rice dalam pertandingan melawan Kroasia tidak sesuai dengan standar yang biasa ditunjukkan oleh sang gelandang. Tuchel mencatat adanya beberapa kesalahan dalam penguasaan bola yang tidak biasanya dilakukan oleh pemain setingkat Rice. Sebagai langkah antisipasi, Tuchel mulai bereksperimen dengan menempatkan Reece James, mantan anak asuhnya di Chelsea yang berposisi asli sebagai bek kanan, untuk mengisi peran di lini tengah.

Kondisi Rice yang kelelahan ini menimbulkan kekhawatiran serius bagi tim berjuluk The Three Lions. Analisis menunjukkan bahwa jika Inggris berhasil melaju hingga partai final Piala Dunia 2026 dan Rice tetap dimainkan tanpa rotasi, ia diprediksi akan mencatatkan total 70 penampilan dalam satu musim. Beban kerja tersebut dinilai sangat ekstrem bagi seorang pemain sepak bola profesional.

Kini, tantangan besar berada di tangan Thomas Tuchel untuk meracik strategi dan menerapkan rencana alternatif. Publik Inggris mulai mempertanyakan peluang juara tim nasional mereka dengan kondisi Rice yang kelelahan, ditambah dengan kerentanan cedera yang dialami oleh pemain kunci lainnya seperti Bukayo Saka. Efektivitas rotasi pemain menjadi kunci krusial bagi Inggris untuk menjaga performa di tengah padatnya jadwal turnamen empat tahunan ini. Manajemen beban kerja pemain akan menjadi penentu apakah Inggris mampu mengatasi kendala fisik yang mendera skuad utamanya di sepanjang sisa turnamen berlangsung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *