Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengeluarkan imbauan resmi kepada masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penipuan keuangan yang memanfaatkan momentum pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026. Kegiatan pendataan skala nasional yang diselenggarakan Badan Pusat Statistik (BPS) tersebut berisiko disalahgunakan oleh oknum tidak bertanggung jawab.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menyatakan bahwa meskipun BPS telah menjamin kerahasiaan data, potensi celah keamanan tetap ada. Mengingat BPS akan mengerahkan sekitar 190 ribu petugas lapangan untuk mengumpulkan data ekonomi secara granular, masyarakat diminta untuk bersikap kritis dalam memverifikasi identitas setiap petugas yang datang.
Langkah preventif yang disarankan oleh OJK meliputi pemeriksaan kartu identitas resmi petugas sensus serta melakukan konfirmasi kepada pengurus RT atau RW setempat. Masyarakat diharapkan tidak langsung memberikan informasi sensitif, terutama yang berkaitan dengan data keuangan atau perbankan, kepada pihak yang tidak dapat membuktikan keabsahannya.
“Kita tidak memungkiri bisa jadi ada pihak-pihak yang mendompleng agenda besar ini. Kuncinya adalah kewaspadaan masyarakat. Harus diperiksa kembali apakah petugas tersebut benar-benar dari BPS,” tegas Friderica di Jakarta, Senin (6/7).
Prosedur pendataan BPS sendiri bersifat rigid, melibatkan wawancara tatap muka serta opsi pengisian kuesioner daring bagi pelaku usaha besar. Partisipasi aktif masyarakat dalam sensus ini sangat krusial bagi akurasi data ekonomi nasional, namun harus dibarengi dengan kehati-hatian guna mencegah penyalahgunaan informasi yang berpotensi menimbulkan kerugian finansial bagi individu maupun pelaku usaha.
Di sisi lain, dinamika industri olahraga global mencatatkan rekor baru melalui sosok Erling Haaland. Penyerang Manchester City dan tim nasional Norwegia tersebut kini dinobatkan sebagai salah satu atlet muda dengan pendapatan tertinggi di dunia.
Berdasarkan data terkini dari Forbes, pesepak bola berusia 25 tahun itu diperkirakan mengantongi total pendapatan sebesar USD 80 juta atau setara dengan Rp 1,44 triliun dalam kurun waktu 12 bulan terakhir. Capaian ini menempatkan Haaland di peringkat ke-19 dalam daftar atlet dengan bayaran tertinggi di dunia untuk tahun 2026.
Pendapatan fantastis Haaland terbagi dalam dua sumber utama. Sebesar USD 60 juta berasal dari gaji, bonus, dan performa di lapangan hijau, yang didukung oleh kontrak jangka panjang hingga tahun 2034. Sementara itu, USD 20 juta sisanya diperoleh dari kontrak sponsor serta berbagai aktivitas komersial bersama merek-merek global ternama.
Keberhasilan Haaland menjadi representasi dari tren dominasi atlet generasi muda dalam industri olahraga profesional. Bersama Haaland, terdapat lima atlet lainnya yang berusia di bawah 25 tahun yang berhasil menembus daftar 50 atlet berpenghasilan tertinggi di dunia. Secara kolektif, keenam atlet muda tersebut berhasil mengumpulkan pendapatan sebesar USD 384 juta, yang menegaskan pergeseran pengaruh ekonomi dalam ekosistem olahraga internasional saat ini.



