Jakarta – Indonesia Open tahun ini akan menghelat format baru yang lebih panjang dan padat, didukung penuh oleh Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI). Kebijakan Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) ini, meskipun meningkatkan biaya operasional, dinilai strategis untuk menjaga prestise turnamen level Super 1000 tersebut.

Turnamen akan digelar selama 11 hari, lebih lama dari sebelumnya. Perubahan ini sejalan dengan komitmen Indonesia untuk mengikuti arah pengembangan bulutangkis dunia yang ditetapkan BWF.

Kepala Bidang Luar Negeri PP PBSI, Bambang Roedyanto, menyatakan bahwa keputusan ini diambil setelah pertimbangan matang. “Dari sisi penyelenggara, penerapan durasi 11 hari tentu berdampak pada meningkatnya biaya operasional karena waktu pelaksanaan yang lebih panjang,” ujar Bambang dalam keterangan tertulisnya, Selasa (10/2/2026).

PBSI memandang tambahan biaya ini sebagai investasi jangka panjang untuk mempertahankan status Indonesia Open sebagai turnamen premier dunia dan menyelaraskan standar penyelenggaraan dengan BWF.

Perubahan format ini juga membawa dampak positif bagi atlet. Jumlah peserta tunggal bertambah dari 32 menjadi 48 atlet, membuka lebih banyak peluang kompetisi bagi wakil Indonesia maupun pemain dunia.

“Atlet juga akan menjalani lebih banyak pertandingan karena menggunakan sistem setengah kompetisi hingga lolos ke babak 16 besar,” jelas Bambang.

Dari sisi teknis, PBSI fokus pada kebugaran dan daya tahan atlet. Dengan durasi turnamen yang lebih panjang dan hanya menggunakan dua lapangan, jadwal pertandingan menjadi lebih longgar. Hal ini memberikan waktu istirahat dan pemulihan yang memadai, menjaga kualitas permainan dan performa atlet.

Selain aspek kompetisi, Indonesia Open akan diperkaya dengan sentuhan hiburan. Tambahan hari penyelenggaraan membuka ruang untuk berbagai aktivitas pendukung di luar pertandingan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *