Jakarta – Pengurus Pusat Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) melaporkan dugaan kasus kekerasan fisik dan pelecehan seksual yang melibatkan mantan pelatih tim nasional, HB, kepada International Federation of Sport Climbing (IFSC). Langkah ini diambil sebagai bentuk komitmen FPTI dalam menangani kasus secara terbuka dan sesuai mekanisme yang berlaku, sembari mendukung penuh proses hukum yang dijalani para atlet korban.
Ketua Umum PP FPTI, Yenny Wahid, menjelaskan bahwa pelaporan ke federasi internasional merupakan prosedur standar ketika muncul dugaan pelanggaran serius dalam dunia olahraga.
Secara internal, FPTI telah membentuk tim pencari fakta sejak awal Februari untuk mendalami dugaan tindakan yang dilakukan HB. Tim ini tengah mengumpulkan bukti dan berencana memanggil terduga pelaku untuk dimintai keterangan dalam waktu dekat.
Prioritas utama FPTI adalah melindungi hak dan privasi para atlet yang diduga menjadi korban. Yenny menekankan bahwa kasus kekerasan dan pelecehan seksual adalah isu sensitif, sehingga identitas korban harus dijaga demi keamanan mereka dan keluarga.
Hingga kini, lima atlet panjat tebing telah melaporkan dugaan kekerasan fisik dan pelecehan seksual tersebut ke Mabes Polri. FPTI tidak dapat melaporkan secara langsung karena berkaitan dengan privasi individu, namun federasi menyediakan bantuan pengacara bagi para korban yang ingin melapor.
FPTI juga telah mengambil langkah tegas dengan memberhentikan HB dari posisinya sebagai pelatih. Keputusan ini diambil setelah federasi menerima sejumlah pengaduan dari atlet, meskipun proses hukum dan investigasi tim pencari fakta masih berjalan.
Sekretaris Jenderal PP FPTI, Wahyu Pristiawan Buntoro, menegaskan komitmen organisasi untuk tidak menoleransi segala bentuk kekerasan, terutama terhadap perempuan dan anak, termasuk pelecehan seksual di lingkungan olahraga.
Meskipun demikian, Yenny Wahid menegaskan bahwa HB tetap memiliki hak untuk membela diri melalui proses hukum. Ia dipersilakan membuktikan bantahannya di pengadilan jika merasa tidak bersalah atas tuduhan yang dialamatkan kepadanya.
Sementara itu, HB membantah melakukan pelecehan seksual maupun kekerasan fisik terhadap atlet. Ia menyatakan bahwa metode latihan keras yang diterapkannya bertujuan untuk membangun mental dan fisik atlet. HB mengakui pernah memeluk atau mencium kening atlet yang tertekan, namun ia menganggap tindakan tersebut sebagai bentuk dukungan moral, bukan pelecehan.











