Sport
Senin, 5 Januari 2026 – 21:30 WIB
Kuala Lumpur, VIVA – Malaysia Open 2026 bukan sekadar turnamen pembuka musim bagi ganda campuran Indonesia Marwan Faza dan Aisyah Salsabila Putri Pranata. Ajang Super 1000 ini menjadi panggung tertinggi pertama yang mereka injak sejak dipasangkan lebih dari setahun lalu, sekaligus tolok ukur kesiapan menembus level elite bulu tangkis dunia.
Berstatus debutan di turnamen kelas atas, Faza dan Aisyah tak menampik rasa antusias yang menyelimuti mereka. Kepercayaan turun di level Super 1000 menjadi dorongan besar, sekaligus tantangan mental yang harus dijawab di lapangan.
“Perasaannya pasti senang dipercaya buat pertandingan di level 1000 ini. Saya sangat bersemangat menyambut debut di Malaysia Open,” ujar Faza dalam keterangan yang dikutip PBSI, Senin 5 Januari 2026.
Aisyah pun merasakan hal serupa. Bagi pasangan peringkat 22 dunia ini, Malaysia Open terasa seperti mimpi yang akhirnya menjadi nyata.
“Tidak terbayangkan akhirnya bisa debut di Super 1000. Kami ingin menampilkan permainan yang baik,” kata Aisyah.
Menghadapi tekanan turnamen besar dengan deretan pemain papan atas dunia, aspek mental menjadi fokus utama dalam persiapan mereka. Faza menegaskan pentingnya kepercayaan diri, baik kepada pasangan maupun pada kemampuan sendiri.
“Kalau saya sendiri lebih disiapkan secara mental. Harus percaya sama kemampuan masing-masing, kemampuan diri sendiri juga. Pelatih percaya kami turun di ajang sebesar ini jadi kami juga harus percaya kalau kami mampu,” ucap Faza.
Sementara itu, Aisyah menekankan kesiapan sejak poin pertama. Menurutnya, adaptasi cepat menjadi kunci agar tidak larut dalam atmosfer pertandingan besar.
“Kami harus siap dan in dari awal di level ini. Feeling mainnya dan penempatan bola harus langsung prima,” tambahnya.
Langkah Faza dan Aisyah menuju Malaysia Open 2026 bukan tanpa proses. Sepanjang 2025, mereka sempat naik turun performa. Empat gelar Super 100 berhasil diraih di Indonesia, Vietnam, Guwahati, dan Odisha, serta satu capaian semifinal di Syed Modi Super 300. Namun, perjalanan itu juga diwarnai fase sulit yang sempat menggerus kepercayaan diri.
“Sebenarnya hasil itu dilihat setengah tahun terakhir saja yang bagus ya. Karena di awal tahun 2025, kami sempat dicoba di 300, di 500 tapi hasilnya kurang bagus kan. Itu juga sempat mengurangi kepercayaan diri,” tutur Faza.
Halaman Selanjutnya
Situasi tersebut membuat mereka sempat berhenti bertanding selama tiga bulan untuk memantapkan persiapan. Penurunan level ke Super 100 justru menjadi titik balik kebangkitan.











