Jakarta – Musim MotoGP 2025 menjadi tantangan berat bagi Francesco “Pecco” Bagnaia. Ducati pun memberikan respons terkait musim 2026 mendatang.
Performa pembalap pabrikan Ducati itu mengalami penurunan drastis. Padahal, selama empat musim sebelumnya, ia selalu menjadi juara atau runner-up. Kini, Bagnaia tercecer di posisi kelima klasemen sementara.
Penurunan performa ini terasa kontras. Pada 2024, Bagnaia mengoleksi 11 kemenangan dan menjadi wajah utama kesuksesan Ducati di era MotoGP modern. Sepanjang 2025, ia hanya mencatat dua kemenangan balapan utama dan dua kemenangan Sprint dari total 22 seri.
Situasi semakin rumit karena dalam lima balapan terakhir, Bagnaia kerap mengalami masalah pada bagian depan motor, bahkan berujung gagal finis. Konsistensi yang selama ini menjadi kekuatannya seolah menghilang.
Manajer tim Ducati Lenovo, Davide Tardozzi, mengakui bahwa tim belum sepenuhnya berhasil menyediakan motor yang sesuai dengan gaya balap Bagnaia. Menurutnya, kegagalan teknis menjadi faktor utama di balik performa Pecco yang menurun.
Meski demikian, Ducati menegaskan komitmennya untuk tetap mendukung Bagnaia pada musim 2026. Tardozzi menyebut pembalap Italia itu sebagai sosok krusial bagi identitas Ducati, berkat dua gelar juara dunia dan 31 kemenangan yang telah dipersembahkannya.
“Ini sangat menyakitkan karena saya menyayangi Pecco,” ujar Tardozzi.
Dia menegaskan bahwa seluruh tim Ducati Corse, termasuk Gigi Dall’Igna, telah bekerja keras mencari solusi, meski hasilnya belum sesuai harapan pada 2025.
Kini, Ducati memilih menatap ke depan. Dengan evaluasi menyeluruh dan pengembangan motor yang lebih selaras dengan kebutuhan Bagnaia, pabrikan asal Borgo Panigale itu berharap musim 2026 menjadi momen kebangkitan.
Bagi Ducati, Pecco bukan sekadar pembalap, melainkan simbol yang masih diyakini mampu mengembalikan kejayaan.











