Johannesburg – Amerika Serikat menuduh Afrika Selatan mengabaikan prinsip pendirian G20 terkait deklarasi pemimpin negara anggota tentang krisis iklim.
Juru bicara Gedung Putih, Anna Kelly, menyebut bahwa Presiden Cyril Ramaphosa tetap mendorong deklarasi tersebut meskipun AS menolak.
Presiden Donald Trump berharap dapat mengembalikan legitimasi G20 saat AS menjadi tuan rumah pada 2026. Ketegangan ini muncul bersamaan dengan absennya delegasi AS di KTT G20 di Johannesburg.
Seharusnya, Afrika Selatan menyerahkan presidensi G20 kepada AS, namun serah terima itu tidak terlaksana pada hari pembukaan.
Menteri Luar Negeri Afrika Selatan, Ronald Lamola, menjelaskan bahwa Washington ingin serah terima dilakukan melalui charge d’affaires Kedutaan AS di Pretoria.
DIRCO ingin membedakan antara serah terima dan pembahasan substansi dalam pertemuan yang dihadiri para kepala negara serta pejabat.
Lamola menegaskan serah terima harus dilakukan pada tingkat kepala negara atau menteri yang ditunjuk oleh Presiden AS.
“Kami akan memberikan penghormatan setara kepada mereka. Presiden kami tidak bisa menyerahkan presidensi kepada seorang charge d’affaires dalam KTT yang dihadiri begitu banyak kepala negara,” ujarnya.
Kisruh ini menyusul keputusan Trump yang tidak mengirim pejabat AS ke Johannesburg, menuduh pemerintah Afrika Selatan melakukan pelanggaran hak asasi manusia terhadap warga Afrikaner kulit putih.
Presiden Ramaphosa menyebut ada kemungkinan perubahan sikap dari AS, namun Gedung Putih membantah pernyataan itu. KTT akhirnya dibuka tanpa kehadiran AS. G20 dibentuk pada 1999 dan beranggotakan 19 negara serta dua organisasi regional, Uni Eropa dan Uni Afrika.











