Jakarta – Upaya dua pelatih ternama, Patrick Kluivert dan Philippe Troussier, untuk menerapkan filosofi sepak bola menyerang di Timnas Indonesia dan Vietnam berujung kegagalan. Keduanya sama-sama harus mengakhiri kontrak di tengah jalan.
PSSI sempat membuat kejutan dengan menunjuk Kluivert sebagai pelatih baru Timnas Indonesia pada 8 Januari lalu, menggantikan Shin Tae-yong.
Alasan penunjukan Kluivert adalah kemampuannya dinilai lebih baik dalam berkomunikasi dengan pemain, terutama para pemain keturunan Belanda.
Kluivert sejak awal ingin menerapkan gaya bermain menyerang, berbeda dengan Shin Tae-yong yang lebih mengandalkan pertahanan dan serangan balik. Gaya bermain ini sebelumnya mengantarkan Garuda melangkah jauh di Kualifikasi Piala Dunia 2026.
Media Vietnam, Dantri.com.vn, menilai perubahan gaya bermain yang terburu-buru dari sistem Shin Tae-yong ke Kluivert sebagai sebuah kesalahan.
“Dari peran sebagai penguntit, pemain Indonesia harus ‘bertahan dan berburu’, bermain dengan mentalitas tim yang kuat,” tulis Dantri.
Dantri menilai bahwa gaya bermain menyerang dan penguasaan bola ala Kluivert belum mampu memberikan dampak positif bagi Timnas Indonesia, bahkan cenderung merugikan dalam beberapa pertandingan melawan tim-tim kuat.
Dantri juga melihat kesamaan nasib antara Kluivert dan Troussier, mantan pelatih Timnas Vietnam, yang juga gagal menerapkan gaya bermain serupa.
Troussier berambisi mengubah gaya bermain Timnas Vietnam menjadi lebih menyerang dan berbasis penguasaan bola. Ia bahkan mengeliminasi pemain veteran dan menggantinya dengan pemain muda.
Namun, formula tersebut tidak mudah diserap dalam waktu singkat. Timnas Vietnam akhirnya menelan 10 kekalahan dari 14 pertandingan di bawah asuhan Troussier.
Saat ini, di bawah pelatih baru Kim Sang-sik, Vietnam kembali ke gaya bermain serangan balik dan meraih kesuksesan di ajang ASEAN Cup.
“Ada satu kesamaan antara kedua pelatih, Troussier dan Kluivert,” tulis Dantri.
“Keduanya ingin ‘mencerahkan’ sepak bola Asia Tenggara dengan gaya permainan berbasis penguasaan bola, tetapi pada akhirnya, keduanya menerima hasil yang sama: Dipecat (putus kontrak) setelah gagal total dengan gaya permainan tersebut.”
Dantri menyimpulkan bahwa sepak bola Asia Tenggara masih berada pada level yang relatif rendah. Menerapkan gaya permainan penguasaan bola membutuhkan pemain-pemain berkualitas tinggi, dan hal itu tidak mudah dilakukan dalam waktu singkat.
Tekanan publik dan kurangnya kesabaran dalam sepak bola menjadi faktor yang membuat Kluivert dan Troussier gagal di Asia Tenggara. Mereka mungkin memiliki idealisme dan strategi yang tepat, tetapi semuanya membutuhkan waktu.











