New York – Pertemuan final Piala Dunia 2026 antara tim nasional Argentina dan Spanyol tidak hanya menyuguhkan persaingan di lapangan, tetapi juga mencerminkan perbedaan tajam dalam sikap politik luar negeri kedua negara terkait konflik Israel-Palestina.

Argentina, di bawah kepemimpinan Presiden Javier Milei sejak Desember 2023, secara tegas mendukung Israel. Milei bahkan menjadikan Israel sebagai mitra utama dalam kebijakan luar negeri Argentina. Sebelum resmi menjabat, ia kerap menyatakan kekagumannya pada Israel. Setelah terpilih, kunjungan luar negeri pertamanya adalah ke Israel, di mana ia mengunjungi Tembok Ratapan dan bertemu Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Kunjungan ini dianggap sebagai sinyal penguatan hubungan bilateral.

Presiden Milei menyebut Israel sebagai “sekutu strategis” dan berkomitmen memindahkan Kedutaan Besar Argentina dari Tel Aviv ke Yerusalem. Pada kunjungan kenegaraannya ke Israel pada 2025, ia menegaskan kembali komitmen tersebut dalam pidatonya di parlemen Israel (Knesset), dengan menekankan nilai kebebasan, demokrasi, dan perjuangan melawan terorisme sebagai dasar hubungan kedua negara. Pemerintah Israel menyambut Milei dengan istimewa sebagai pendukung setia.

Pandangan ideologis Milei turut mempererat kedekatannya dengan Israel. Presiden yang berhaluan libertarian ini menilai peradaban Barat dan nilai-nilai Yahudi-Kristen sebagai fondasi demokrasi modern. Meski dibesarkan dalam keluarga Katolik, Milei mempelajari Taurat bersama para rabi dan berencana mendalami tradisi Yahudi setelah masa jabatannya.

Di sisi lain, Spanyol di bawah Perdana Menteri Pedro Sánchez mengambil sikap berlawanan. Sejak pecahnya konflik Gaza pada Oktober 2023, Sánchez menjadi salah satu pemimpin Eropa paling vokal membela hak-hak rakyat Palestina. Pada 28 Mei 2024, Spanyol secara resmi mengakui Negara Palestina, bersama Irlandia dan Norwegia. Sánchez menyatakan pengakuan ini dilakukan demi keadilan, konsistensi, dan perdamaian, serta mendukung solusi dua negara. Spanyol mengakui Palestina berdasarkan perbatasan sebelum Perang 1967, dengan Tepi Barat dan Jalur Gaza sebagai wilayahnya dan Yerusalem Timur sebagai ibu kota.

Selain pengakuan diplomatik, Sánchez mengkritik keras operasi militer Israel di Gaza. Ia menyerukan gencatan senjata permanen, peningkatan bantuan kemanusiaan, dan kepatuhan terhadap hukum humaniter internasional. Pemerintah Spanyol mendukung upaya internasional menekan Israel menghentikan serangan yang menimbulkan banyak korban sipil.

Kebijakan ini memicu ketegangan hubungan Spanyol dan Israel. Pemerintah Israel mengecam pengakuan Palestina oleh Madrid dan melayangkan protes diplomatik atas pernyataan Sánchez yang dianggap terlalu keras. Namun, Sánchez tetap mempertahankan sikapnya dengan alasan kebijakan luar negeri Spanyol berlandaskan penghormatan terhadap hukum internasional dan perlindungan warga sipil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *