Cibinong – Timnas U22 Indonesia menuai evaluasi besar setelah takluk 0-3 dari Mali dalam laga uji coba internasional, Sabtu (16/11/2025) di Stadion Pakansari, Cibinong. Pertandingan ini menjadi bagian dari persiapan menuju SEA Games 2025.
Meskipun kalah telak, statistik pertandingan menunjukkan bahwa tim asuhan Indra Sjafri tampil cukup kompetitif, terutama dalam distribusi bola dan akurasi umpan.
Berikut adalah fakta-fakta statistik kunci dari laga Timnas U22 Indonesia vs Mali:
1. Penguasaan Bola Seimbang
Pertarungan di lini tengah berjalan sengit. Timnas U22 Indonesia berhasil mengimbangi Mali dalam penguasaan bola. Data LapangBola mencatat, Indonesia menguasai 49 persen bola, sementara Mali 51 persen.
2. Akurasi Umpan Unggul
Efektivitas dan akurasi umpan pemain Indonesia cukup baik. Ivar Jenner dan kawan-kawan mencatatkan 386 umpan sukses dari 440 umpan, dengan akurasi 87 persen. Mali mencatatkan akurasi 82 persen (391 umpan sukses dari 473 umpan). Secara individu, Ivar Jenner menjadi metronom permainan dengan 68 umpan.
3. Perlawanan Sengit dan Ancaman ke Kotak Penalti
Tim Garuda Muda tercatat 23 kali berhasil membawa bola hingga ke kotak penalti lawan. Selain itu, Dony Tri dkk juga menciptakan delapan crossing dan memperoleh empat tendangan sudut.
4. Masalah Klasik: Penyelesaian Akhir
Penyelesaian akhir menjadi sorotan. Timnas U22 Indonesia melakukan tujuh tendangan, namun hanya empat yang tepat sasaran. Dari empat tendangan sudut, tidak ada yang berbuah gol. Dari delapan crossing, hanya dua yang berhasil digapai rekan setim.
5. Apresiasi untuk Cahya Supriadi dan Lini Pertahanan
Lini pertahanan menunjukkan kerja keras. Mali tercatat melakukan 13 tendangan, di mana tujuh di antaranya tepat sasaran. Tiga dari tendangan on target tersebut berbuah gol. Penjaga gawang Timnas U22 Indonesia, Cahya Supriadi, mencatatkan 4 penyelamatan dan 2 cross claim. Lini belakang Indonesia juga berhasil memblok dua tendangan lawan.
Kekalahan 0-3 ini memberikan materi evaluasi bagi tim pelatih, terutama dalam efektivitas serangan dan konversi peluang sebelum SEA Games 2025. Meskipun unggul dalam akurasi umpan, tim perlu membenahi kekurangan yang ada.











