Jakarta – Ajang lari maraton BTN Jakarta International Marathon 2025 yang digelar pada Minggu (14/6) menyisakan kabar duka menyusul jatuhnya korban di antara para peserta. Insiden tersebut diduga kuat dipicu oleh kombinasi cuaca ekstrem dan kualitas udara Jakarta yang tidak sehat saat perlombaan berlangsung.
Dokter sekaligus praktisi kesehatan, Tirta Mandira Hudhi, yang turut berpartisipasi dalam ajang tersebut, mengungkapkan bahwa kondisi lingkungan saat perlombaan sangat menantang bagi fisik pelari. Menurut Tirta, suhu udara terasa mencapai 32 derajat Celsius sejak titik awal keberangkatan, diperparah dengan tingkat kelembapan yang tinggi.
Kondisi cuaca yang panas dan lembap memaksa tubuh peserta bekerja lebih keras untuk melakukan termoregulasi. Akibatnya, pelari lebih cepat mengalami dehidrasi, peningkatan kadar karbon dioksida di dalam tubuh, serta beban kerja jantung yang meningkat secara signifikan. Hal inilah yang dinilai membuat kondisi fisik peserta menjadi lebih rentan selama menempuh rute maraton.
BTN Jakarta International Marathon 2025 sendiri diikuti oleh puluhan ribu peserta dari berbagai kategori, mulai dari 5 kilometer hingga 42 kilometer (full marathon). Ajang ini diselenggarakan untuk merayakan HUT DKI Jakarta dengan titik keberangkatan dari Monumen Nasional (Monas) dan garis finis di kawasan Gelora Bung Karno. Kategori full marathon dimulai sejak pukul 04.00 WIB, sementara half marathon menyusul pada pukul 04.50 WIB.
Fenomena cuaca ekstrem yang mengganggu ajang olahraga besar kini menjadi perhatian global. World Economic Forum (WEF) dalam laporannya berjudul Sports for People and Planet menyoroti bahwa perubahan iklim telah mengubah lanskap penyelenggaraan kompetisi olahraga dunia. Perubahan pola cuaca yang tidak konsisten memaksa penyelenggara untuk melakukan penyesuaian drastis, baik dari segi waktu maupun lokasi.
Beberapa ajang internasional telah menerapkan langkah mitigasi serupa. Pada Kejuaraan Atletik Dunia 2019 di Doha, Qatar, panitia terpaksa menjadwalkan maraton putri pada tengah malam pukul 23.59 waktu setempat demi menghindari panas ekstrem. Meski demikian, suhu saat itu tetap mencapai 32 derajat Celsius dengan kelembapan 70 persen, yang mengakibatkan 28 dari 68 peserta gagal mencapai garis finis.
Di sisi lain, Los Angeles Marathon 2026 sempat menerapkan kebijakan khusus dengan memberikan opsi bagi pelari untuk berhenti di mil ke-18 namun tetap mendapatkan medali sebagai langkah perlindungan terhadap risiko kesehatan akibat cuaca panas.
Analisis dari Climate Central terhadap 221 ajang maraton global memberikan peringatan serius. Sebanyak 86 persen ajang lari jarak jauh di dunia berpotensi mengalami penurunan kondisi optimal bagi para pelari pada tahun 2045 seiring dengan tren kenaikan suhu global. Hal ini mencakup tujuh ajang maraton paling bergengsi di dunia atau World Marathon Majors. Kondisi ini menuntut penyelenggara di masa depan untuk lebih mengedepankan aspek mitigasi risiko iklim dalam merancang jadwal dan rute perlombaan demi menjamin keselamatan para atlet.


