Jakarta – Pemerintah Malaysia membela diri terkait naturalisasi tujuh pemain tim nasional yang kini terjerat skandal dugaan pemalsuan dokumen. FIFA telah menjatuhkan sanksi larangan bermain kepada ketujuh pemain tersebut.
Pembelaan ini muncul setelah Komite Disiplin FIFA menemukan bukti kuat dugaan penggunaan dokumen palsu oleh otoritas Malaysia untuk membuktikan garis keturunan lokal para pemain.
Tujuh pemain yang dimaksud adalah Gabriel Palmero, Facundo Garces, Rodrigo Holgado, Imanol Machuca, Joao Figueiredo, Jon Irazabal, dan Hector Hevel.
FIFA mengklaim memiliki akta kelahiran asli yang berbeda signifikan dengan dokumen yang diajukan Asosiasi Sepak Bola Malaysia (FAM).
FIFA menilai FAM dan para pemain kurang melakukan pengawasan dan kehati-hatian. FAM sendiri menyatakan akan mengajukan banding atas keputusan tersebut.
Kasus ini memicu reaksi keras di Malaysia. Penggemar dan anggota parlemen mendesak pemerintah untuk menindak tegas FAM, Departemen Registrasi Nasional, dan Kementerian Dalam Negeri.
Menteri Dalam Negeri Malaysia, Saifuddin Nasution Ismail, menegaskan bahwa proses naturalisasi telah sesuai konstitusi.
“Akta kelahiran tidak diwajibkan untuk naturalisasi berdasarkan konstitusi Malaysia,” kata Saifuddin di hadapan parlemen, Kamis.
Saifuddin menambahkan, para pemain telah memenuhi semua persyaratan untuk memperoleh kewarganegaraan. Ia mengakui adanya pelonggaran syarat tertentu, termasuk masa tinggal minimal, dengan kebijaksanaan menteri.
Namun, Saifuddin tidak menjawab tuduhan kegagalan verifikasi keaslian dokumen yang diserahkan ke FAM. Ia menegaskan bahwa kelayakan pemain adalah urusan FIFA dan FAM.
FIFA menegaskan sikap keras terhadap manipulasi administratif. Pengajuan dokumen palsu dianggap sebagai kecurangan yang tidak bisa ditoleransi.
“Perilaku seperti itu mengikis kepercayaan terhadap keadilan kompetisi,” tegas FIFA.
Skandal ini berpotensi mengganggu persiapan Malaysia menuju Piala Asia 2027.











