Singapore – Ganda putra Indonesia, Fajar Alfian dan Muhammad Shohibul Fikri, memastikan satu tempat di final Singapore Open 2026 usai menaklukkan pasangan China, Liang Wei Keng dan Wang Chang, dengan skor 23-21 dan 21-4 pada babak semifinal di Singapore Indoor Stadium, Sabtu (30/5/2026).

Kemenangan ini membawa Fajar/Fikri berhadapan dengan pasangan India, Satwiksairaj Rankireddy dan Chirag Shetty, di laga puncak. Fajar mengungkapkan bahwa pertandingan berlangsung sangat ketat, terutama pada gim pertama yang diwarnai kejar-mengejar angka dan adu setting. Ia menegaskan, “Kuncinya memang di adu permainan depan dan cukup krusial ketika kami bisa memenangkan adu setting.”

Fajar menilai pasangan China memiliki kualitas yang merata, dengan Wang Chang sebagai pengatur permainan dan Liang Wei Keng sebagai penyelesai serangan dari belakang. Namun, kondisi lapangan yang berangin dan shuttlecock yang melaju cepat justru dimanfaatkan lebih optimal oleh wakil Indonesia.

Setelah memenangkan gim pertama, Fajar/Fikri tampil dominan di gim kedua dengan langsung unggul jauh, sehingga lawan kesulitan mengembangkan permainan. Fikri menilai kondisi lapangan yang menguntungkan saat berpindah sisi menjadi faktor penting. Meski sempat memimpin 11-0, mereka tetap menjaga fokus agar momentum tidak berbalik. “Walaupun sudah 11-0, kami tidak mau lengah, tidak mau jadi terkejar dan tidak mau momentum balik untuk mereka. Jadi kami tekan terus dan alhamdulillah bisa berjalan lancar,” ujarnya.

Menjelang final, Fajar/Fikri sudah mengamati permainan Satwik/Chirag yang berhasil menyingkirkan pasangan Korea Selatan, Kim Won-ho dan Seo Seung-jae, di semifinal. Fikri mengakui calon lawannya sangat impresif, namun hal itu tidak membuat mereka gentar. “Tidak akan mudah lawan Satwik dan Chirag. Mereka sangat luar biasa, tapi itu tidak membuat kami gentar. Kami akan mencoba yang terbaik dan semoga hasilnya maksimal,” katanya.

Sementara itu, tunggal putra Indonesia, Alwi Farhan, harus mengakhiri perjuangannya di semifinal setelah kalah dari wakil Prancis, Alex Lanier, dengan skor 14-21 dan 11-21. Alwi mengaku kesulitan menghadapi tekanan permainan agresif Lanier yang memiliki power dan kecepatan pukulan tinggi. “Alex mempunyai power yang sangat kuat dan itu kelebihan yang kurang bisa saya antisipasi. Saya terus merasakan tekanan karena pukulannya sangat eksplosif dan kencang,” ungkap Alwi.

Meski gagal melaju ke final, Alwi tetap bersyukur atas pencapaiannya di Singapore Open dan bertekad menjadikan kekalahan ini sebagai bahan evaluasi untuk turnamen berikutnya, Indonesia Open. “Semua sebenarnya sudah dipersiapkan, tetapi jalannya tidak sesuai yang saya mau. Saya harus belajar dan mengevaluasi lebih dalam apa yang menjadi kelebihan lawan yang belum bisa saya antisipasi. Itu akan menjadi modal ketika nanti bertemu lagi,” tutup Alwi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *