Jakarta – Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) akan menguji coba aturan baru “Time Clock” dan permainan berkelanjutan pada turnamen BWF World Tour, termasuk Daihatsu Indonesia Masters 2025. Aturan ini bertujuan meningkatkan konsistensi penegakan peraturan dan mengurangi penundaan antar reli.
Sistem Time Clock memberikan batas waktu 25 detik bagi pemain, khususnya server, untuk melakukan servis berikutnya setelah reli berakhir. Penghitungan mundur dimulai sejak wasit memasukkan skor. Aturan ini diharapkan mengurangi subjektivitas wasit dalam menilai penundaan.
Pemain diizinkan melakukan aktivitas seperti mengelap handuk, minum, mengikat tali sepatu, atau menggunakan semprotan dingin dalam batas waktu 25 detik tanpa izin wasit. Penerima servis tetap harus mengikuti tempo server.
Permintaan pergantian shuttlecock harus diajukan segera setelah reli berakhir dan diselesaikan dalam 25 detik. Pengepelan lapangan yang memakan waktu lebih lama akan membuat wasit menghentikan Time Clock, sementara pengepelan singkat tetap berjalan.
BWF menegaskan bahwa pelanggaran penundaan waktu dapat dikenai sanksi mulai dari peringatan verbal, kartu kuning, hingga kartu merah. Selama masa uji coba, hanya peringatan verbal yang akan diterapkan.
Aturan baru ini akan dievaluasi sebelum ditetapkan permanen. Jika berhasil, Time Clock dan permainan berkelanjutan akan berlaku penuh sepanjang 2026. Pertandingan yang belum menggunakan Time Clock akan tetap menerapkan penilaian penundaan seperti sebelumnya.
Jonatan Christie, pebulu tangkis tunggal putra Indonesia, menjadi runner-up Daihatsu Indonesia Masters 2025 setelah kalah dari Kunlavut Vitidsarn dari Thailand dalam tiga gim, 21-18, 17-21, dan 18-21.











