VIVA – Video seorang bocah perempuan berusia 6,5 tahun yang mengikuti lomba trail run sejauh 10 kilometer menjadi viral di media sosial. Dalam video yang diunggah akun Instagram @lesnois.club, bocah bernama Kekey tampak berlari dengan penuh semangat di jalur trail yang menantang, melintasi tanah dan area perkebunan.
Di salah satu titik Water Station, Kekey berhenti sejenak untuk mengonsumsi potongan semangka sebagai sumber energi sebelum melanjutkan lari. Saat memasuki kilometer ke-9, Kekey mengaku mulai merasakan deg-degan, namun tetap melanjutkan dengan semangat sambil berteriak “finish-finish-finish” mendekati garis akhir.
Aksi Kekey ini memicu beragam reaksi dari warganet. Sebagian menganggapnya sebagai inspirasi karena semangat yang ditunjukkan, sementara sebagian lain mempertanyakan keamanan dan kesesuaian aktivitas tersebut untuk anak seusianya.
Menanggapi hal ini, Dokter Spesialis Kejiwaan dari RS Murni Teguh Sudirman, dr. Soegiarto Soekidjan, Sp.KJ, menyatakan kekhawatirannya terkait dampak kesehatan bagi anak tersebut. Ia menjelaskan bahwa menurut standar organisasi atletik dunia (IAAF), terdapat batas usia minimal untuk mengikuti lari jarak tertentu.
“Soegiarto menyebutkan, IAAF mempersyaratkan usia minimal 10 tahun untuk anak berlari sejauh 3 kilometer. Sedangkan dari perspektif kesehatan anak, usia minimal adalah 8 tahun untuk berlari sejauh 2,4 kilometer,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa tulang anak, khususnya bagian garis pertumbuhan, belum mampu menahan beban lari jarak jauh seperti 10 kilometer. Kondisi ini berpotensi menyebabkan gangguan atau kelainan pertumbuhan di masa depan.
“Garis pertumbuhan di tulang anak-anak belum mampu menahan beban lari 10 km, yang bisa menyebabkan kelainan pertumbuhan di kemudian hari,” tegas Soegiarto.











