Basel – Tim nasional putri Inggris resmi menyandang status sebagai Ratu Eropa setelah menjuarai UEFA Women’s Euro 2025. Gelar juara tersebut diraih usai menaklukkan Spanyol melalui drama adu penalti dengan skor 3-1, setelah kedua tim bermain imbang 1-1 hingga babak perpanjangan waktu berakhir di Stadion St. Jakob-Park, Basel, Swiss, Minggu (27/7/2025).

Kemenangan ini menandai keberhasilan Inggris mempertahankan supremasi di kancah sepak bola wanita Eropa, menyusul gelar pertama yang mereka raih pada edisi 2022. Prestasi gemilang The Lionesses sekaligus menonjolkan kontras perolehan trofi dibandingkan tim nasional putra Inggris yang hingga saat ini belum pernah mencicipi gelar juara Piala Eropa, dengan pencapaian terbaik hanya sebagai runner-up pada edisi 2020 dan 2024.

Perjalanan skuad asuhan Sarina Wiegman menuju tangga juara tidak dilalui tanpa hambatan. Memulai kompetisi di Grup D, Inggris sempat menelan kekalahan 1-2 dari Prancis. Namun, mentalitas juara mereka terbukti saat bangkit menghajar Belanda 4-0 dan Wales 6-1, yang membawa mereka melaju ke babak perempat final sebagai runner-up grup.

Memasuki fase gugur, konsistensi Inggris diuji dengan jadwal padat dan intensitas tinggi. The Lionesses selalu dipaksa bermain hingga babak perpanjangan waktu. Di perempat final, mereka menyingkirkan Swedia melalui adu penalti setelah bermain imbang 2-2. Langkah serupa berlanjut di babak semifinal, di mana mereka berhasil membalikkan keadaan untuk menang 2-1 atas Italia.

Kekuatan tim nasional putri Inggris pada turnamen ini bertumpu pada kolaborasi pemain dari dua klub rival di Liga Inggris, yakni Arsenal dan Chelsea. Sebanyak 12 pemain dari kedua klub tersebut menjadi tulang punggung skuad Wiegman. Hannah Hampton, kiper berusia 24 tahun asal Chelsea, terpilih sebagai pemain terbaik atau MVP dalam laga final. Sementara itu, penyerang muda Arsenal berusia 19 tahun, Michelle Agyemang, dinobatkan sebagai Pemain Muda Terbaik turnamen setelah mencetak gol-gol krusial sepanjang fase gugur.

Mentalitas pantang menyerah menjadi kunci utama kesuksesan Inggris. Dalam setiap pertandingan fase gugur, mereka kerap berada dalam posisi tertinggal lebih dulu. Saat melawan Swedia, Inggris sempat tertinggal 0-2 sebelum menyamakan kedudukan lewat Lucy Bronze dan Agyemang. Pola serupa terjadi saat menghadapi Italia, di mana gol penyama kedudukan Agyemang di menit ke-90+6 dan gol kemenangan Chloe Maggie Kelly di menit ke-119 menjadi penentu.

Pada laga final melawan Spanyol, Inggris kembali tertinggal akibat gol Maria Caldentey pada menit ke-25. Alessia Russo berhasil menyamakan kedudukan pada menit ke-57, yang membawa pertandingan berlanjut hingga babak adu penalti. Ketangguhan mental para pemain Inggris akhirnya memastikan trofi kembali ke London, sekaligus mempertegas dominasi mereka di panggung sepak bola wanita internasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *