Padang – Drama internal mewarnai investigasi kasus naturalisasi tujuh pemain keturunan Timnas Malaysia yang disanksi FIFA. Komisi Integritas Badan Penegakan Hukum Malaysia (EAIC) mencopot seorang anggota tim investigasi karena konflik kepentingan.
Anggota satuan tugas khusus tersebut, Datuk Seri Yusof Ismail, dianggap sebagai “penyusup” dalam tim. Keputusan ini diambil saat rapat pertama EAIC menemukan Yusof Ismail juga merupakan anggota Komite Investigasi Independen bentukan Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM).
EAIC sepakat menggunakan kerangka acuan TOR untuk memastikan transparansi, independensi, dan integritas investigasi. Tim khusus ini menargetkan menyelesaikan investigasi dalam tiga bulan.
Investigasi ini bertujuan mengungkap hubungan penting dalam sistem aplikasi kewarganegaraan, mengklarifikasi peran otoritas terkait, dan menilai celah dalam manajemen naturalisasi pemain.
EAIC menekankan komitmennya untuk bekerja secara transparan dan akan mempublikasikan temuan investigasi. Pertanyaan besar yang muncul adalah apakah tim ini mampu membongkar akar masalah skandal naturalisasi Malaysia.
FAM telah membawa kasus ini ke Pengadilan Arbitrase Olahraga Internasional (CAS). Namun, Malaysia justru terancam sanksi yang lebih berat dari FIFA.
Sementara itu, sejumlah pemain naturalisasi mulai kehilangan pekerjaan di klub masing-masing. Imanol Machuca, Rodrigo Holgado, dan Gabriel Palmero telah diputus kontrak. Facundo Garces masih dipertahankan Alaves, meski dicoret dari skuad musim ini.
Kelanjutan kasus naturalisasi palsu ini menjadi sorotan di sepak bola Asia Tenggara. Nasib Malaysia, apakah terhindar dari sanksi atau justru mendapat hukuman lebih berat, masih menjadi tanda tanya.











