Kuala Lumpur – Mantan gelandang Arsenal, Mesut Ozil, mengungkapkan bahwa sikap vokalnya terkait dugaan pelanggaran hak asasi manusia terhadap Muslim Uighur di Xinjiang, China, pada akhir 2019 menjadi awal dari masalahnya dengan klub London Utara. Ozil menyatakan bahwa setelah mengunggah komentar soal isu tersebut, ia langsung “ditutup pintu” untuk kembali ke tim utama Arsenal.

Dalam sebuah konferensi kepemimpinan, Ozil mengenang bahwa klub memaksanya menjalani latihan secara mandiri selama delapan bulan sebelum akhirnya memutus kontrak dan pindah ke Fenerbahce pada Januari 2021. “Saya mendengar soal Uighur Turki dan melakukan riset. Sebagai seorang bintang, saya pun bersuara. Saya tahu akan ada masalah, tapi saya tidak peduli. Saya unggah dan saya bahagia,” ujarnya.

Ozil menambahkan bahwa reaksi klub membuatnya tidak lagi diberi kesempatan bermain, meskipun ia memahami posisi rekan-rekannya yang harus menjaga keluarga mereka. Ia juga mengaku masa sulit itu bisa ia lalui berkat dukungan keluarga, terutama istri dan anaknya. “Saya selalu bilang ke anak muda, menikah dan punya anak memberi kekuatan lain. Saat itu saya dikeluarkan dari skuad dan berlatih sendiri selama delapan bulan,” katanya.

Sementara itu, mantan CEO Arsenal, Vinai Venkatesham, membantah bahwa klub menjauh dari Ozil karena unggahannya soal Muslim Uighur. Venkatesham menegaskan, “Tidak adil mengatakan kami mengambil sudut pandang komersial. Pernyataan itu adalah hak individu Mesut, bukan mewakili klub.”

Ozil menghabiskan delapan tahun di Arsenal setelah didatangkan dari Real Madrid pada 2013 dengan biaya 42,5 juta poundsterling. Ia mengumumkan pensiun dari sepak bola pada 2023 setelah mengalami cedera yang menghambat kariernya di tahun-tahun terakhir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *